Paling DEKAT, BESAR, RINGAN, dan BERAT Bagi Manusia

Khutbah Jumat kali ini sangat menyentuh dan “menyentil”. 27 Mei 2011, lokasi di masjid di kawasan Bukit Dago, Gunung Sindur, Tangerang Selatan, dan lupa untuk nama ustadz nya. Beliau membawakan kisah dialog Imam Al Ghazali bersama para muridnya. Imam Al Ghazali menanyakan 4 pertanyaan mengenai hal-hal yang bersifat “paling” dalam kehidupan manusia.

 

Pertanyaan Imam Al Ghazali kepada para muridnya adalah: “Siapa menurut kalian yang paling dekat dengan kalian dalam kehidupan di dunia ini?” Berbagai jawaban dengan berbagai argumentasi diberikan para muridnya. Ada yang menjawab Imam Al Ghazali, sebagai guru mereka, karena ia lah orang tempat mereka menimba ilmu pengetahuan dan agama. Ada pula para murid yang menjawab orang tua karena menurut mereka tidak ada yang lebih baik kepada manusia selain orang tuanya. Ada pula yang menjawab sahabat mereka, kekasih, bahkan harta mereka. Imam Al Ghazali tersenyum seraya berkata, “Jawaban kalian semuanya benar, namun belum tepat!” Para murid pun bertanya siapa gerangan yang paling dekat dalam kehidupan manusia. Sang Imam pun menjawab, “Hal yang paling dekat dengan manusia dalam kehidupan adalah KEMATIAN.” Ia melanjutkan, “Jika engkau merasa dekat dengan orang tuamu, saat ini pun secara nyata kalian sudah berjarak dengan mereka, bahkan dengan sahabat kalian di sini pun, kalian masih dapat bersembunyi dari mereka. Tapi kematian, tidak ada satu pun makhluk di dunia yang bisa menyembunyikan diri dari kematian. Kematian sangat dekat dengan manusia, tidak peduli usia, tempat, status sosial, ataupun kekayaan. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, demikian firman Allah SWT.”

 

Pertanyaan kedua yang diajukan Imam Al Ghazali kepada para muridnya adalah: “Apa menurut kalian hal yang paling besar dan megah di dunia ini?” Beragam jawaban serta alasan diberikan kembali oleh para muridnya. Ada yang menjawab Ka’bah karena merupakan simbol kepatuhan manusia terhadap Tuhannya. Ada pula yang menjawab gunung, ada yang menjawab langit, dan jawaban lainnya yang kesemuanya kembali mengarahkan kepada tanggapan Sang Imam, “Jawaban kalian benar, namun belum tepat.” Beliau meneruskan perkataannya, “Hal yang paling besar dalam kehidupan manusia adalah NAFSU.” “Apapun di dunia ini, seberapa besarnya suatu benda tegak di muka bumi, semegah apapun sesuatu terlihat di depan mata kita, semuanya akan terlihat sangat kecil di mata manusia ketika ia sudah dikuasai nafsu. Bumi luas, hijau, nan indah pun dapat rusak dengan sekejap ketika nafsu manusia berkuasa. Negara besar dengan berbagai bentuk kesejahteraan akan rusak ketika para pemimpinnya dikuasai oleh nafsu.”

 

Pertanyaan berikutnya yang ditanyakan oleh Sang Imam kepada murid-muridnya adalah: “Apa yang menurut kalian paling ringan di dunia ini?” Para murid nya kembali memberikan jawaban yang bervariasi, mulai dari kapas, kertas, sampai daun. Sang Imam lagi-lagi tersenyum dan mengatakan bahwa jawaban mereka benar namun belum tepat. Sang Imam menjelaskan, “Hal yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT.” “Banyak bahkan sangat banyak manusia yang demi segelintir kebahagiaan dunia, demi seuntai kenikmatan fana, atau bahkan sekelumit senangnya memeiliki jabatan rela meninggalkan shalat. Manusia dengan sangat ringannya menjawab “Nanti dulu.” ketika ia diingingatkan untuk mengerjakan shalat, tanpa pernah berpikir logis, seandainya ia meminta sesuatu dengan Allah dengan penuh permohonan yang mengiba-iba, dan Allah ingin sekali saja membalas mereka dengan mengatakan “Nanti dulu.” apa yang akan terjadi. Kita kebanyakan sangat takut tidak memenuhi undangan pimpinan, bos, atau atasan kita dalam suatu jamuan, pekerjaan, atau kegiatan, tapi kita dengan sangat entengnya melalaikan panggilan Allah dalam undangan shalat!” Imam Al Ghazali pun melanjutkan, “Tidakkah kita semua sadar bahwa atasan, pimpinan, bos, atau siapapun yang menyuruh kita, adalah sama dengan kita, sama manusia. Kenapa mereka atau kita harus besar kepala dengan segala status sosial, pendidikan, atau kekayaan kita. Saat shalat, ketika melakukan ruku’, apakah pernah kita sadari bahwa kepala kita yang kita junjung tinggi, yang menjadi lambang kehormatan manusia, sama rendah posisinya dengan qubul dan dubur kita yang merupakan tempat pembuangan kotoran. Apaagi ketika melakukan sujud, apakah kita tidak lebih menyadari lagi bahwa kepala kita sama rata posisi nya dengan kaki kita, bahkan lebih rendah posisinya daripada qubul dan dubur kita. Jadi sesungguhnya, apa masih pantas kita menyombongkan diri dengan mendahulukan panggilan atasan kita daripada panggilan Allah?”

 

Pertanyaan terakhir yang diberikan Sang Imam kepada para muridnya adalah: “Apa yang menurut kalian paling berat di dunia ini?” Pertanyaan menarik ini pun kembali mengundang jawaban dan alasan yang berbeda-beda dari para muridnya. Sebagian besar menjawab besi dan baja, sebagian lagi menjawab pergi ke masjid, bahkan tidak sedikit yang memberikan jawaban lain yang mungkin sedikit tidak masuk akal. Sang Imam dengan segala kerendahan hatinya tidak menyalahkan jawaban para muridnya, namun beliau menambahkan, “Hal yang paling berat di dunia ini adalah MENJAGA SILATURAHMI.” “Kebanyakan dari kita selalu mengatasnamakan kesibukan sebagai alasan ketidaksempatan kita menyambung tali silaturahmi, padahal sesungguhnya di sela-sela kesibukan sangat tidak mungkin manusia tidak memiliki waktu barang sedikitpun untuk bersilaturahmi. Fenomena yang sangat umum ketika manusia sudah mulai disibukkan dengan urusan duniawi bahkan bersalaman dengan tetangga atau sekedar bertegur sapa dan bersenda gurau untuk mengakrabkan suasana pun terasa tidak pernah bisa. Alangkah ruginya kita sebagai manusia yang ketika mati pun akan merepotkan manusia lainnya mulai bersilaturahmi, menyempatkan diri bersalaman, tersenyum dengan tetangga, bertutur kata walaupun sebentar, agar tali silaturahmi selalu terpelihara.”

 

Sang Imam pun menyimpulkan jawaban keempat pertanyaan yang ia berikan tadi, “Jika engkau ingin mendapati hidupmu sebagai manusia yang penuh berkah dan selalu diberkahi Allah, maka mulailah untuk selalu mengingat bahwa kematian sangatlah dekat dengann kehidupan kita kita agar kita selalu beristiqamaha untuk melakukan amal shaleh, mulailah mengendalikan nafsu kitaagar kita tidak terbawa ke jalan yang menyesatkan dan merusak, mulailah membiasakan berat hati untuk meninggalkan shalat, dan mulailah untuk walaupun sebentar, walaupun sejenak, walaupun hanya tersenyum, selalu menyambung tali silaturahmi!” Smile,

What do you say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s