Fenomena “Nilai” dalam Perkuliahan

“Nilai” sepertinya sudah menjadi harga mati dalam penentuan bagus atau tidaknya prestasi seseorang di bangku kuliah. Harapan agar memperoleh nilai mutu huruf antara A atau B adalah suatu hal yang selalu terdengar jika kita berbicara tentang perkuliahan, bukan hanya bagi mahasiswa reguler yang rata rata mengikuti perkuliahan hampir setiap hari, tapi juga bagi mahasiswa di kelas karyawan atau kelas non-reguler lainnya. Namun, hampir menjadi rahasia umum bahwa ekspektasi nilai yang bagus bagi mahasiswa kelas karyawan sangatlah besar, tentu saja dengan berbagai “excuse” yang mereka buat sendiri, entah itu capek karena harus membagi waktu antara kerja dan kuliah, atau karena sudah tua sehingga otak tidak bisa berpikir dengan jernih lagi, atau alasan alasan lain yang bermuara pada harapan adanya pengertian dari para dosen mereka agar memberikan nilai yang “dapat dikompromikan”.

Beberapa waktu yang lalu ketika saya mengoreksi hasil UTS para mahasiswa saya yang notabene adalah mahasiswa kelas karyawan dari berbagai latar belakang usia dan pekerjaan, saya terkaget kaget oleh fakta bahwa hampir 70% dari nilai yang saya koreksi berada di range 25-55! Hal yang paling pasti saya lakukan saat itu adalah “introspeksi diri”, apa sebenarnya yang salah. Apakah cara mengajar saya yang membuat mereka muak dengan materi kuliah yang saya bawakan? Apa memang soal soal UTS yang dibuat oleh tim pembuat soal merupakan soal soal yang berada pada level “difficult” sehingga butuh perhatian yang amat ekstra dalam pemahaman dan pengerjaan? Atau memang kualitas mahasiswa saya yang belum pantas mengikuti UTS?

Berbagai pertanyaan timbul dalam benak saya saat itu. Tapi beragam argumen juga muncul di pikiran saya waktu itu. Seandainya saya yang tidak bisa mengajar, sampai detik ini saya mengajar selama hampir 12 tahun saya belum pernah mendengar komplain yang berarti mengenai materi atau pengantaran materi yang saya berikan, lagipula selama saya mengajar mereka, Alhamdulillah mereka baik baik  saja (atau mungkin mereka berpura pura baik baik saja di hadapan saya). Seandainya memang soal UTS nya yang terlalu susah, masih ada juga beberapa mahasiswa yang memperoleh nilai di atas 70. Seandainya memang pengaruh usia, sepertinya sedikit “impossible”, karena setahu saya rata-rata usia mereka masih dalam kategori usia produktif untuk berpikir.

Saya teringat pada komitmen yang saya sampaikan kepada para mahasiswa saya di pertemuan awal perkuliahan, yaitu janji bahwa saya sangat tidak senang jika harus memberikan nilai “C”. Apakah mungkin keterlenaan akan janji ini yang membuat para mahasiswa seakan tenang tenang saja menghadapi ujian yang pada dasarnya harus serius mereka hadapi. Seandainya iya, I may conclude that I was absolutely wrong, giving them hope that high. It was not my intention, membuat mereka semua jadi lupa bahwa mereka tetap memiliki tanggung jawab belajar dan mengerjakan ujian dengan sebaik baiknya.

Fenomena nilai inisepertinya susah untuk dibuat acuan yang sedemikian ketat, baik saya sebagai dosen, maupun pihak universitas yang membuat kebijakan sama sama seperti “makan buah simalakam”, memberi nilai istimewa karena kasihan justru kemungkinan besar akan membuat para mahasiswa merasa “aman” dengan situasi mereka, tapi memberi nilai dengan sangat objektif pun akan membuat pencapaian target atas misi universitas akan sangat lambat bisa direalisasikan. Tapi bagaimanapun, based on this precious experience, I would like to promise myself one thing for the next coming moments, that I shall certainly not give my students highest expectation for their grades. Grade is something to be achieved, not a thing to be put in mercy.

What do you say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s