What My Brother’s Writing…

( respectively copied from http://www.facebook.com/notes/chandra-kusuma/2005-2009/395130013562 )

Analisa sederhana ini saya dedikasikan buat rekan saya, Arie Prasetyo, yang sebelumnya sempat berdiskusi hangat dengan saya sambil menikmati secangkir kopi mengenai mundurnya Ibu Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan RI. Analisa sederhana ini bukanlah bentuk dukungan saya terhadap beliau, karena saya selalu berusaha untuk bersikap netral. Namun, saya berharap analisa sederhana ini bisa menjadi landasan untuk bersikap, ketimbang hanya menulis status di berbagai jejaring sosial, tanpa tahu lebih dalam kinerjanya. Analisa sederhana ini hanya mencakup pada industri pasar modal dan lembaga keuangan, dimana saya bekerja pada badan pemerintah yang bertindak sebagai regulatornya. Semoga bermanfaat!

“Sebagaimana dimaklumi, pasar modal merupakan salah satu cermin aktivitas ekonomi modern dan menjadi salah satu tolok ukur kinerja ekonomi. Terdapat beberapa indikator utama yang dapat dijadikan ukuran kinerja ketika membicarakan tentang industri pasar modal, antara lain Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kapitalisasi pasar. IHSG, yang dalam Bahasa Inggris disebut juga Jakarta Composite Index, JCI, atau JSX Composite, merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI; dahulu Bursa Efek Jakarta (BEJ)). Diperkenalkan pertama kali pada tanggal 1 April 1983, sebagai indikator pergerakan harga saham di BEJ, Indeks ini mencakup pergerakan harga seluruh saham biasa dan saham preferen yang tercatat di BEI. IHSG mempunyai beberapa fungsi atau gambaran kinerja suatu bursa diantaranya, yaitu sebagai indikator trend pasar, indikator tingkat keuntungan, benchmark kinerja suatu portofolio, dan memfasilitasi pembentukan portopolio dengan strategi pasif. Adapun kapitalisasi pasar adalah sebuah istilah bisnis yang menunjuk ke harga keseluruhan dari sebuah saham perusahaan yaitu sebuah harga yang harus dibayar seseorang untuk membeli seluruh perusahaan. Besar dan pertumbuhan dari suatu kapitalisasi pasar perusahaan seringkali adalah pengukuran penting dari keberhasilan atau kegagalan perusahaan terbuka. Kapitalisasi pasar ini dihitung dengan mengalikan jumlah saham perusahaan tersebut dengan harga sekarang dari saham tersebut.

Sepanjang tahun 2005-2009, IHSG dan kapitalisasi pasar secara keseluruhan mengalami kenaikan yang signifikan, akan tetapi khusus pada akhir tahun 2008 mengalami penurunan drastis. Hal ini disebabkan krisis yang melanda pasar keuangan dunia pada saat itu. Pada akhir tahun 2008, IHSG turun hingga -50,63% dari Rp.2.745,83 menjadi Rp.1.355,41, sedangkan kapitalisasi pasar mengalami penurunan hingga -45,86% dari Rp.1.988.326,20 miliar menjadi Rp.1.076.490,53 miliar. Namun, di akhir tahun 2009 kedua indikator utama pasar modal tersebut langsung mengalami kenaikan yang sangat siginifikan, IHSG naik hingga 86 % menjadi Rp.2.534,36 dan kapitalisasi pasar pun meningkat sebanyak 87,6% menjadi Rp.2.019.375,13 miliar. Pada akhir tahun 2005, IHSG dan kapitalisasi pasar masing-masing mengalami kenaikan sebesar 16,16% dan 17,84%. Adapun untuk tahun-tahun setelah tahun 2005, kenaikan yang dialami cukup stabil pada level di atas 50%, IHSG naik 55,3% pada akhir tahun 2006 dan 52% pada akhir tahun 2007, sementara kapitalisasi pasar naik 55,8% pada akhir tahun 2006 dan 59,2% pada akhir tahun 2007. Selanjutnya, apabila kita ambil rata-rata kenaikan selama periode 2005-2009, maka akan didapat angka yang sangat menggembirakan dimana IHSG ternyata telah tumbuh sebesar 31,98%, sementara kapitalisasi pasar sebesar 34,93%. Tentu saja, perlu dilakukan perbandingan dengan performa bursa di dunia lainnya, untuk kemudian didapat secara keseluruhan bahwa indikator pasar modal Indonesia merupakan salah satu yang mengalami peningkatan terbaik baik di kawasan ASEAN maupun di dunia.

Menurut Undang-undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27), Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Pada reksadana, manajemen investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukannya ke dalam Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana tersebut. Oleh karena itu, mengukur kinerja Reksa Dana pun dapat dijadikan salah satu tolak ukur berapa banyak modal yang dikumpulkan dalam industri tersebut. Industri Reksa Dana pun mengalami kenaikan signifikan selama periode 2005-2009 dengan total mencapai 610 Reksa Dana hingga akhir tahun 2009. Kenaikan yang dialami dari tahun ke tahun cukup bervariasi dimulai dengan 38,40% pada akhir tahun 2005 (dari 237 menjadi328), 22,86 % pada akhir tahun 2006 (dari 328 menjadi 403 Reksa Dana), 17,37% pada akhir tahun 2007 (473 Reksa Dana), 19,87% pada akhir tahun 2008 (567 Reksa Dana), dan 7,58% pada akhir tahun 2009. Secara umum, NAB Reksa Dana mengalami kenaikan yang signifikan , akan tetapi khusus pada tahun 2008 mengalami penurunan yang signifikan, seperti halnya pada IHSG dan kapitalisasi pasar, dari Rp.92.190.634,60 juta menjadi Rp.74.065.811,15 juta, atau penurunan sekitar -19,66%. Namun, NAB Reksa Dana kembali langsung menunjukkan pertumbuhan positif pada peride setelahnya di 2008-2009, menjadi Rp.112.983.345,09 juta atau kenaikan 52,54%. Pada tahun-tahun sebelumnya kenaikan juga dirasakan sangat signifikan dengan level berada di atas 75%. Meskipun di akhir tahun 2005 terjadi penurunan signifikan dalam NAB Reksa Dana mencapai -71,74%, namun setelahnya mengalami kenaikan yang sangat signifikan sebesar 75.54% pada akhir tahun 2006 dan akhir tahun 2007 sebesar 78,6%.

Indikator lainnya yang dapat dilihat sebagai sedikit gambaran mengenai industri Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) adalah Perasuransian. Total perusahaan asuransi hingga akhir tahun 2008 berjumlah 144 perusahaan asuransi dengan rincian 45 perusahaan asuransi jiwa, 90 asuransi umum, 4 perusahaan reasuransi, 2 perusahaan asuransi sosial dan Jamsostek, serta 3 perusahaan asuransi PNS dan TNI/Polri. Apabila melihat data secara keseluruhan periode 2005-2008 didapat gambaran mengenai naik turunnya jumlah perusahaan perasuransian. Hal ini terutama disebabkan dengan semakin ketatnya pengawasan atas industri perasuransian di Indonesia, menyebabkan cukup banyak perusahaan asuransi yang dicabut izinnya karena melakukan pelanggaran atas peraturan perundang-undangan di bidang perasuransian. Namun, apabila kita melihat jumlah total asset dari perusahaan asuransi tersebut akan didapat gambaran yang sangat menggembirakan. Terlepas dari kenaikan total asset industri perasuransian yang hanya mencapai 6,45% pada akhir tahun 2008 dari Rp.228.828.530 juta menjadi Rp.243.579.367 juta, kenaikan di tahun-tahun sebelumnya tercatat hingga 16,27% di akhir tahun 2005, lalu 25,48% pada akhir tahun 2006 dan 30,80% saat akhir tahun 2007.”

What do you say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s