“Tarawih-nya libur dulu, Pak!”

Itu adalah fakta yang kami hadapi di rumah baru kami ketika bulan Ramadhan tiba. Sebuah perumahan yang cukup elite seluas kurang lebih 150 ha, yang didirikan kurang lebih 10 tahun yang lalu, pada kenyataannya belum memiliki Masjid untuk meng-akomodir pelaksanaan kebebasan beragama bagi para penghuninya. Kompleks kami saat ini terdiri dari 3 cluster, Paradise Cendana (di bagian depan dan merupakan cluster tertua), Paradise Hill (tempat kami, dengan posisi geografis yang lebih tinggi dibandingkan 2 cluster lainnya), serta Paradise Rasamala (di bagian belakang, dengan jumlah rumah terbanyak). Dari ketiga cluster tersebut hanya Paradise Cendana yang memiliki Mushala, yang dibangun di atas kavling dalam cluster tersebut, yang dibeli swadaya oleh warga dan dibangun swadaya pula oleh warga. Tapi, namanya saja mushala, tentu dengan luas yang tidak lebih luas dari kavling rumah yang ada dalam cluster tersebut, yg rata rata paling besar berukuran 96 m2, dan tentu saja sangat kurang dapat menampung warga muslim yang ingin berkegiatan selama bulan suci Ramadhan.

Khusus cluster kami, berdasarkan informasi dari warga yang lebih dulu tinggal, kegiatan tarawih dilangsungkan dengan meminjam halaman rumah kosong yang belum laku terjual atau meminjam halamn rumah warga yang cukup luas. Untuk Ramadhan tahun ini, kebetulan halaman rumah yang kita tumpangi adalah halaman rumah milik Ibu Cathy yang kebetulan memang cukup luas karena ia mengambil 2 kavling untuk rumahnya, namun sekali lagi luasnya sangat terbatas karena usable area nya paling hanya seukuran 6m x 3m. Kegiatan tarawih pun tidak berjalan dengan mulus sampai akhir Ramadhan karena berbagai alasan, baik karena cuaca hujan, maupun karena tidak ada imam shalat tarawihnya. Setali tiga uang dengan keadaan yang terjadi di cluster Paradise Rasamala. Khusus untuk alasan cuaca, sebelum menuliskan posting ini, judul di atas lah yang kami dengan dari pemilik rumah, karena kebetulan cuaca malam ini kurang begitu bersahabat (mendung sangat gelap, angin kencang, plus petir dan tanda2 akan segera hujan lebat) sehingga ketika kami datang tadi, langsung disambut dengan ramah tamah, “Maaf ya, Pak, Bu, malam ini tarawih nya libur dulu!”.

Weird? Tentu saja! Karena, frankly speaking, this is the very first time in my life mendengar istilah “libur dulu” untuk shalat tarawih. Terlebih lagi beberapa hari yang lalu, when my wife told me about her experience menjadi imam shalat tarawih dadakan karena tidak ada imam yang datang plus tidak ada bapak2 yang datang! Akhirnya, 2 hari berikutnya, when i had my spare time to join Tarawih di sana, didaulat untuk menjadi Imam dan Penceramah Shalat Tarawih. Alhamdulillah, berjalan dengan lancar. Tapi, tetap saja, hati sedih, menyaksikan fakta kaum muslim yang tidak bisa menjalankan shalat tarawih karena tidak adanya fasilitas Masjid di komolek kami, walaupun sebenarnya, dua minggu yang lalu, Ane sudah melihat pengumuman baru terpampang di tanah lapang di dekat cluster Paradise Rasamala di bagian belakang kompleks yang menyatakan “Di Sini Akan Dibangun Lokasi Masjid SCP”. Syukur Alhamdulillah, tapi (lagi2 tapi) tentu belum akan dapat kami nikmati pada saat Idul Fitri nanti kan? Kemungkinan besar baru akan selesai pertengahan tahun depan, itupun dengan catatan seandainya dikerjakan cepat dan disokong warga sebagai takmir masjid nya. Sekali lagi, mudah2an saja lancar.

Kenyataan yang amat kontras dengan situasi di kompleks lain di dekat kompleks kami namely Bukit Dago, yang memiliki 1 masjid dan 1 Mushala di cluster yang berbeda, yang kebetulan di Masjid itulah Ane selalu menunaikan Shalat Jumat. Dari segi jarak, tidak begitu jauh, hanya sekitar 1 km, tapi dari segi psikologis, malu, masa shalat jumat numpang di masjid kompleks lain. Fenomena yang benar2 membuat miris perasaan Ane sebagai muslim. Dari informasi yang beredar, pembangunan masjid di komleks ami lambat karena kebetulan Sang Owner Developer, which is PT Subur Progress adalah seorang Nasrani, jadi mungkin Mosque is not a priority for a residence. Yang malah justru dikejar dibangun duluan adalah Dreamland (fasilitas swimming pool, playground, dan jogging park bagi warga), Indomaret sebagai sarana belanja retail, dan yang saat ini sedang digarap di depan Dreamland, berdasarkan informasi dari Marketing Officer nya (ga tahu bisa dipercaya atau ga beritanya) akan dibangun Klinik dan Ruko. What??? Quite hedonist, in my opinion, tapi ya mau bagaimana lagi, pendapat warga jarang yang didengar. Di kompleks Bukit Dago, masjid mereka bahkan merupakan bantuan langsung dari Red Crescent International Saudi Arabia (dari prasati yang terpampang di dinding masjid). Ane benar2 tidak tahu bagaimana prosedur mengajukan permohonan bantuan kepada lembaga agama atau sosial baik lokal ataupun internasional sehingga kami segera memiliki masjid di kompleks kami. Ane sengaja menulis posting ini dengan harapan ada pembaca yang bisa memberi tahu bagaimana prosedur memohon donasi organisasi internasional baik organisasi agama maupun sosial untuk pembangunan masjid di kompleks kami atau paling tidak memohon donasi untuk membebaskan lahan di kompleks atau di cluster kami sehingga kami bisa memulai upaya swadaya membangun masjid bagi kaum muslim di kompleks kami. Saya juga berharap ada pembaca dari organisasi agama atau sosial lokal atau mungkin yang kenal dengan orang2nya bisa membantu mencarikan solusi permohonan donasi. Saya sempat berpikir mencoba mengajukan permohonan ke Daarul Quran nya Ustadz Yusuf Mansyur, tapi sekali lagi I simply have no idea how to start. Ane juga khawatir apa iya pihak Daarul Quran mau membantu. Tapi sekali lagi, apapun jalannya, ane akan tetap mengusahakan agar Masjid segera berdiri di kompleks kami, agar adzan segera berkumandang di kompleks kami, agar syiar Islam dan teduhnya lantunan tadarus dapat segera terdengar di sekeliling kami, menggantikan “dangdutan” dan acara radio yang diputar di mushala di sekitar kompleks kami untuk membangunkan orang sahur, yang justru sangat mengganggu. Ane bertekad ingin ikut serta memakmurkan masjid dan pembangunannya, meskipun tidak harus menjadi takmir nya, tapi saya ingin jadi muslim yang turut meramaikan masjid, Insyaallah. Please ease this hope, ya Alllah…

One thought on ““Tarawih-nya libur dulu, Pak!”

What do you say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s