Menjelang Waktu Mudik

The title was chosen not because I am preparing myself for an annual leave called “mudik”, an annual tradition in Indonesia where most people in urban area leave for their home town, celebrating Idul Fitri holiday along with their beloved and families. Judul ini dipilih sebagai representasi keadaan umum yang dalam minggu mendatang akan segera terjadi di hampir seluruh bagian Indonesia dan dilkaukan oleh hampir sebagian besar penduduk Indonesia. Esesnsi Ramadhan sebagai bulan suci dan waktu untuk menambah pahala serta wahana pendekatan diri kepada Allah sebagai wujud pengabdian dan peningkatan taqwa kaum muslim sedikit banyak terganggu dengan kesibukan menjelang mudik dan atau persiapan menyambut hari raya Idul Fitri. Kesibukan ibadah tarawih kebanyakan digantikan dengan kesibukan mempersiapkan kue kue lebaran atau baju baju baru. Hiruk pikuk ibadah malam seringkali tergerus dengan segala tetek bengek lebaran dan sebangsanya. Tapi ya sudahlah, itu budaya, dan sepertinya begitu sulit mengubah budaya di Indonesia (apalagi budaya korupsi). I am not gonna talk more about “mudik”, I just simply wanna share few things I have thought, seen, and done close to the time when most common people will do their “mudik” tradition.

Beberapa saat yang lalu, dari berita teks berjalan di salah satu stasiun TV, dikabarkan Pemerintah Kabupaten Tangerang melarang mudik menggunakan Mobil Dinas. Hanya saja yang tidak ada lanjutannya dari berita tersebut adalah, siapa yang dilarang, warganya atau aparat Pem-Kab nya. Kembali ke beberapa tahun silam ketika Ane masih berstatus pelajar di sebuah SMA negeri di salah satu propinsi di pulau Sumatera, begitu banyak ketika hari raya Idul Fitri tiba, sanak famili, saudara, relasi dan kerabat orang tua (yang kebetulan tujuan mudiknya sama dengan kami) yang menggunakan kendaraan dinas (bahasa kerennya Kendaraan Plat Merah) sebagai sarana pulang kampung. Dengan santainya semua yang kami lihat dan temui mengatakan bahwa, fasilitas ada untuk dimanfaatkan jangan didiamkan. Ya! Ane yakin itu merupakan jawaban umum yang mungkin bukan hanya mereka yang berkata, tetapi mungkin hampir sebagian besar masyarakat yang kebetulan keluarga mereka mendapat fasilitas kendaraan dinas (baik mobil ataupun sepeda motor, untung bajaj belum pernah ane temui sebagai kendaraan dinas). Istilah umum yang sering dipakai, Aji Mumpung. Bahasa londo nya Opportunist. Apapun namanya, karena memang ane sampai saat ini belum pernah jadi orang gedongan, belum pernah jadi orang kaya, belum pernah dapat kendaraan dinas, menggunakan fasilitas bukan untuk tujuan dasar nya sama saja dengan penyalahgunaan. Bukan sok bersih, tapi itu logika dasar ane sebagai seorang manusia. Jadi, kesimpulannya, siapapun yang membenarkan keadaan itu berarti membenarkan penyalahgunaan.

Saya pernah melontarkan kelakar ini kepada istri, dan guess what, ternyata dulu, dia tidak sepenuhnya setuju dengan opini di atas. She said that, everyone will do their best to afford the best and the most affordable things for his/her family. Well, lain lubuk lain pula bentuknya🙂 tapi yang jelas saya sudah memberitahu istri bagaimana prinsip saya mengenai masalah mudik dengan kendaraan dinas. Kembali lagi ke berita yang saya lihat tadi, bolehlah dikatakan saya mendukung himbauan atau mungkin larangan Pemerintah Kabupaten Tangerang tersebut. Hanya saja, dimanapun sepertinya, aturan dibuat untuk dilanggar dan kepatuhan hanya ada ketika terlihat, ketika lengah semuanya benar. Mudah2an saja dapat terlaksana dan terawasi dengan baik himbauannya.

By the way, posting ini ditulis melalui Windows Live Writer karena antisipasi koneksi internet yang sangat tidak reliable dari Telkom Speedy sebagai provider. Sudah hampir 5 hari koneksi internet tidak stabil, 5 menit lancar, 5 menit berikutnya sama sekali hilang, sudah beberapa kali komplain baik via telpon dan bahkan via twitter, selalu mendapat jawaban sama, “kami akan berusaha memperbaiki secepatnya, Pak.” Teknisinya sudah 2 kali datang, yang pertama dari telkom untuk telponnya, yang berikutnya dari telkom speedy nya. Yang dari telkom bilang jaringan ground nya mungkin terganggu. Yang dari speedy bilang karena jaringan speedy menumpang jaringan telpon jadi lebih baik memanggil teknisi telpon nya. Dari customer service via telpon, disuruh mencoba bypass-ing kabel dengan splitter nya, hasilnya bagus untuk sehari, berikutnya berulah lagi. Mungkin posting ini bisa jadi komplain publik untuk Telkom Speedy. Kalau ketidakstabilan dan gangguan jaringan gara2 kami ambil paket yang murah sepertinya terlalu naif dan saya terlalu berburuk sangka, atau mungkin kalau gangguan internet nya karena tagihan telpon belum terbayar, sepertinya ga mungkin juga karena tagihan internet nya sudah saya lunasi semua. Atau mungkin jaringan telkom speedy ikut mengendur seiring dengan mulai mengendurnya semanagat banyak orang dalam beribadah di minggu akhir ramadhan? I have no idea. Tapi yang jelas, apapun alasanya, saya belum pernah menemui masalah seperti ini ketika menggunakan internet provider lain (ga apalah ya sebut merk, FirsMedia) sebelum kami pindah ke rumah baru kami. Mudah2an ada perbaikan layanan dari telkom speedy di waktu mendatang🙂

What do you say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s