WORDS REPETITIONS in AL QUR’AN

Quoted from We All Are Muslim and Facebook Photo

Apart from the miraculous characteristics of the Qur’an which we have looked into so far, it also contains what we can term “mathematical miracles.” There are many examples of this fascinating Qur’anic aspect. One example of this is the number of repetitions of certain words in the Qur’an. Some related words are surprisingly repeated the same number of times. Below is a list of such words and the number of repetitions in the Qur’an.

  • The statement of “seven heavens” is repeated seven times. “The creation of the heavens (khalq as-samawat)” is also repeated seven times.
  • “Day (yawm)” is repeated 365 times in singular form, while its plural and dual forms “days (ayyam and yawmayn)” together are repeated 30 times. The number of repetitions of the word “month” (shahar) is 12.
  • The number of repetitions of the words “plant” and “tree” is the same: 26
  • The word “payment or reward” is repeated 117 times, while the expression “forgiveness” (mughfirah), which is one of the basic morals of the Qur’an, is repeated exactly twice that amount, 234 times.
  • When we count the word “Say,” we find it appears 332 times. We arrive at the same figure when we count the phrase “they said.”
  • The number of times the words, “world” (dunya) and “hereafter” (akhira) are repeated is also the same: 115
  • The word “satan” (shaitan) is used in the Qur’an 88 times, as is the word “angels” (malaika).
  • The word faith (iman) (without genitive) is repeated 25 times throughout the Qur’an as is also the word infidelity (kufr).
  • The words “paradise” and “hell” are each repeated 77 times.
  • The word “zakah” is repeated in the Qur’an 32 times and the number of repetitions of the word “blessing” (barakah) is also 32.
  • The expression “the righteous” (al-abraar) is used 6 times but “the wicked” (al-fujjaar) is used half as much, i.e., 3 times.
  • The number of times the words “Summer-hot” and “winter-cold” are repeated is the same: 5.
  • The words “wine” (khamr) and “intoxication” (saqara) are repeated in the Qur’an the same number of times: 6
  • The number of appearances of the words “mind” and “light” is the same: 49.
  • The words “tongue” and “sermon” are both repeated 25 times.
  • The words “benefit” and “corrupt” both appear 50 times.
  • “Reward” (ajr) and “action” (fail) are both repeated 107 times.
  • “Love” (al-mahabbah) and “obedience” (al-ta’ah) also appear the same number of times: 83
  • The words “refuge” (maseer) and “for ever” (abadan) appear the same number of times in the Qur’an: 28.
  • The words “disaster” (al-musibah) and “thanks” (al-shukr) appear the same number of times in the Qur’an: 75.
  • “Sun” (shams) and “light” (nur) both appear 33 times in the Qur’an.
  • In counting the word “light” only the simple forms of the word were included.
  • The number of appearances of “right guidance” (al-huda) and “mercy” (al-rahma) is the same: 79
  • The words “trouble” and “peace” are both repeated 13 times in the Qur’an.
  • The words “man” and “woman” are also employed equally: 23 times.
    Will they not ponder the Qur’an? If it had been from other than Allah, they would have found many inconsistencies in it.
    (Qur’an, 4:82)
  • The number of times the words “man” and “woman” are repeated in the Qur’an, 23, is at the same time that of the chromosomes from the egg and sperm in the formation of the human embryo. The total number of human chromosomes is 46; 23 each from the mother and father.
  • “Treachery” (khiyanah) is repeated 16 times, while the number of repetitions of the word “foul” (khabith) is 16.
  • “Human being” is used 65 times: the sum of the number of references to the stages of man’s creation is the same: i.e.
  • Human being 65 [Soil (turab) 17 | Drop of Sperm (nutfah) 12 | Embryo (‘alaq) 6 | A half formed lump of flesh (mudghah) 3 | Bone (‘idham) 15 | Flesh (lahm) 12 | Total 65
  • The word “salawat” appear five times in the Qur’an, and Allah has commanded man to perform the prayer (salat) five times a day.
  • The word “land” appears 13 times in the Qur’an and the word “sea” 32 times, giving a total of 45 references. If we divide that number by that of the number of references to the land we arrive at the figure 28.888888888889%. The number of total references to land and sea, 45, divided by the number of references to the sea in the Qur’an, 32, is 71.111111111111%. Extraordinarily, these figures represent the exact proportions of land and sea on the Earth today.

Wallahu’alam…

Advertisements

Toddler Property Laws

1. If I like it, it’s mine.
2. If it’s in my hand, Its mine.
3. If I can take it from you, it’s mine.
4. If I had it a little while ago, It’s mine.
5. If it’s mine, it must never appear to be yours in any way.
6. If I am doing or building something,all the pieces are mine.
7. If it looks like mine, it is mine.
8. If I saw it first, it’s mine.
9. If you are playing with something and you put it down, it automatically becomes mine.
10. If it’s broken, it’s yours.

I can’t stop laughing after reading this, however, these laws are true…for them 🙂

(from www.rogerknapp.com)

Menjelang Waktu Mudik

The title was chosen not because I am preparing myself for an annual leave called “mudik”, an annual tradition in Indonesia where most people in urban area leave for their home town, celebrating Idul Fitri holiday along with their beloved and families. Judul ini dipilih sebagai representasi keadaan umum yang dalam minggu mendatang akan segera terjadi di hampir seluruh bagian Indonesia dan dilkaukan oleh hampir sebagian besar penduduk Indonesia. Esesnsi Ramadhan sebagai bulan suci dan waktu untuk menambah pahala serta wahana pendekatan diri kepada Allah sebagai wujud pengabdian dan peningkatan taqwa kaum muslim sedikit banyak terganggu dengan kesibukan menjelang mudik dan atau persiapan menyambut hari raya Idul Fitri. Kesibukan ibadah tarawih kebanyakan digantikan dengan kesibukan mempersiapkan kue kue lebaran atau baju baju baru. Hiruk pikuk ibadah malam seringkali tergerus dengan segala tetek bengek lebaran dan sebangsanya. Tapi ya sudahlah, itu budaya, dan sepertinya begitu sulit mengubah budaya di Indonesia (apalagi budaya korupsi). I am not gonna talk more about “mudik”, I just simply wanna share few things I have thought, seen, and done close to the time when most common people will do their “mudik” tradition.

Beberapa saat yang lalu, dari berita teks berjalan di salah satu stasiun TV, dikabarkan Pemerintah Kabupaten Tangerang melarang mudik menggunakan Mobil Dinas. Hanya saja yang tidak ada lanjutannya dari berita tersebut adalah, siapa yang dilarang, warganya atau aparat Pem-Kab nya. Kembali ke beberapa tahun silam ketika Ane masih berstatus pelajar di sebuah SMA negeri di salah satu propinsi di pulau Sumatera, begitu banyak ketika hari raya Idul Fitri tiba, sanak famili, saudara, relasi dan kerabat orang tua (yang kebetulan tujuan mudiknya sama dengan kami) yang menggunakan kendaraan dinas (bahasa kerennya Kendaraan Plat Merah) sebagai sarana pulang kampung. Dengan santainya semua yang kami lihat dan temui mengatakan bahwa, fasilitas ada untuk dimanfaatkan jangan didiamkan. Ya! Ane yakin itu merupakan jawaban umum yang mungkin bukan hanya mereka yang berkata, tetapi mungkin hampir sebagian besar masyarakat yang kebetulan keluarga mereka mendapat fasilitas kendaraan dinas (baik mobil ataupun sepeda motor, untung bajaj belum pernah ane temui sebagai kendaraan dinas). Istilah umum yang sering dipakai, Aji Mumpung. Bahasa londo nya Opportunist. Apapun namanya, karena memang ane sampai saat ini belum pernah jadi orang gedongan, belum pernah jadi orang kaya, belum pernah dapat kendaraan dinas, menggunakan fasilitas bukan untuk tujuan dasar nya sama saja dengan penyalahgunaan. Bukan sok bersih, tapi itu logika dasar ane sebagai seorang manusia. Jadi, kesimpulannya, siapapun yang membenarkan keadaan itu berarti membenarkan penyalahgunaan.

Saya pernah melontarkan kelakar ini kepada istri, dan guess what, ternyata dulu, dia tidak sepenuhnya setuju dengan opini di atas. She said that, everyone will do their best to afford the best and the most affordable things for his/her family. Well, lain lubuk lain pula bentuknya 🙂 tapi yang jelas saya sudah memberitahu istri bagaimana prinsip saya mengenai masalah mudik dengan kendaraan dinas. Kembali lagi ke berita yang saya lihat tadi, bolehlah dikatakan saya mendukung himbauan atau mungkin larangan Pemerintah Kabupaten Tangerang tersebut. Hanya saja, dimanapun sepertinya, aturan dibuat untuk dilanggar dan kepatuhan hanya ada ketika terlihat, ketika lengah semuanya benar. Mudah2an saja dapat terlaksana dan terawasi dengan baik himbauannya.

By the way, posting ini ditulis melalui Windows Live Writer karena antisipasi koneksi internet yang sangat tidak reliable dari Telkom Speedy sebagai provider. Sudah hampir 5 hari koneksi internet tidak stabil, 5 menit lancar, 5 menit berikutnya sama sekali hilang, sudah beberapa kali komplain baik via telpon dan bahkan via twitter, selalu mendapat jawaban sama, “kami akan berusaha memperbaiki secepatnya, Pak.” Teknisinya sudah 2 kali datang, yang pertama dari telkom untuk telponnya, yang berikutnya dari telkom speedy nya. Yang dari telkom bilang jaringan ground nya mungkin terganggu. Yang dari speedy bilang karena jaringan speedy menumpang jaringan telpon jadi lebih baik memanggil teknisi telpon nya. Dari customer service via telpon, disuruh mencoba bypass-ing kabel dengan splitter nya, hasilnya bagus untuk sehari, berikutnya berulah lagi. Mungkin posting ini bisa jadi komplain publik untuk Telkom Speedy. Kalau ketidakstabilan dan gangguan jaringan gara2 kami ambil paket yang murah sepertinya terlalu naif dan saya terlalu berburuk sangka, atau mungkin kalau gangguan internet nya karena tagihan telpon belum terbayar, sepertinya ga mungkin juga karena tagihan internet nya sudah saya lunasi semua. Atau mungkin jaringan telkom speedy ikut mengendur seiring dengan mulai mengendurnya semanagat banyak orang dalam beribadah di minggu akhir ramadhan? I have no idea. Tapi yang jelas, apapun alasanya, saya belum pernah menemui masalah seperti ini ketika menggunakan internet provider lain (ga apalah ya sebut merk, FirsMedia) sebelum kami pindah ke rumah baru kami. Mudah2an ada perbaikan layanan dari telkom speedy di waktu mendatang 🙂

“Tarawih-nya libur dulu, Pak!”

Itu adalah fakta yang kami hadapi di rumah baru kami ketika bulan Ramadhan tiba. Sebuah perumahan yang cukup elite seluas kurang lebih 150 ha, yang didirikan kurang lebih 10 tahun yang lalu, pada kenyataannya belum memiliki Masjid untuk meng-akomodir pelaksanaan kebebasan beragama bagi para penghuninya. Kompleks kami saat ini terdiri dari 3 cluster, Paradise Cendana (di bagian depan dan merupakan cluster tertua), Paradise Hill (tempat kami, dengan posisi geografis yang lebih tinggi dibandingkan 2 cluster lainnya), serta Paradise Rasamala (di bagian belakang, dengan jumlah rumah terbanyak). Dari ketiga cluster tersebut hanya Paradise Cendana yang memiliki Mushala, yang dibangun di atas kavling dalam cluster tersebut, yang dibeli swadaya oleh warga dan dibangun swadaya pula oleh warga. Tapi, namanya saja mushala, tentu dengan luas yang tidak lebih luas dari kavling rumah yang ada dalam cluster tersebut, yg rata rata paling besar berukuran 96 m2, dan tentu saja sangat kurang dapat menampung warga muslim yang ingin berkegiatan selama bulan suci Ramadhan.

Khusus cluster kami, berdasarkan informasi dari warga yang lebih dulu tinggal, kegiatan tarawih dilangsungkan dengan meminjam halaman rumah kosong yang belum laku terjual atau meminjam halamn rumah warga yang cukup luas. Untuk Ramadhan tahun ini, kebetulan halaman rumah yang kita tumpangi adalah halaman rumah milik Ibu Cathy yang kebetulan memang cukup luas karena ia mengambil 2 kavling untuk rumahnya, namun sekali lagi luasnya sangat terbatas karena usable area nya paling hanya seukuran 6m x 3m. Kegiatan tarawih pun tidak berjalan dengan mulus sampai akhir Ramadhan karena berbagai alasan, baik karena cuaca hujan, maupun karena tidak ada imam shalat tarawihnya. Setali tiga uang dengan keadaan yang terjadi di cluster Paradise Rasamala. Khusus untuk alasan cuaca, sebelum menuliskan posting ini, judul di atas lah yang kami dengan dari pemilik rumah, karena kebetulan cuaca malam ini kurang begitu bersahabat (mendung sangat gelap, angin kencang, plus petir dan tanda2 akan segera hujan lebat) sehingga ketika kami datang tadi, langsung disambut dengan ramah tamah, “Maaf ya, Pak, Bu, malam ini tarawih nya libur dulu!”.

Weird? Tentu saja! Karena, frankly speaking, this is the very first time in my life mendengar istilah “libur dulu” untuk shalat tarawih. Terlebih lagi beberapa hari yang lalu, when my wife told me about her experience menjadi imam shalat tarawih dadakan karena tidak ada imam yang datang plus tidak ada bapak2 yang datang! Akhirnya, 2 hari berikutnya, when i had my spare time to join Tarawih di sana, didaulat untuk menjadi Imam dan Penceramah Shalat Tarawih. Alhamdulillah, berjalan dengan lancar. Tapi, tetap saja, hati sedih, menyaksikan fakta kaum muslim yang tidak bisa menjalankan shalat tarawih karena tidak adanya fasilitas Masjid di komolek kami, walaupun sebenarnya, dua minggu yang lalu, Ane sudah melihat pengumuman baru terpampang di tanah lapang di dekat cluster Paradise Rasamala di bagian belakang kompleks yang menyatakan “Di Sini Akan Dibangun Lokasi Masjid SCP”. Syukur Alhamdulillah, tapi (lagi2 tapi) tentu belum akan dapat kami nikmati pada saat Idul Fitri nanti kan? Kemungkinan besar baru akan selesai pertengahan tahun depan, itupun dengan catatan seandainya dikerjakan cepat dan disokong warga sebagai takmir masjid nya. Sekali lagi, mudah2an saja lancar.

Kenyataan yang amat kontras dengan situasi di kompleks lain di dekat kompleks kami namely Bukit Dago, yang memiliki 1 masjid dan 1 Mushala di cluster yang berbeda, yang kebetulan di Masjid itulah Ane selalu menunaikan Shalat Jumat. Dari segi jarak, tidak begitu jauh, hanya sekitar 1 km, tapi dari segi psikologis, malu, masa shalat jumat numpang di masjid kompleks lain. Fenomena yang benar2 membuat miris perasaan Ane sebagai muslim. Dari informasi yang beredar, pembangunan masjid di komleks ami lambat karena kebetulan Sang Owner Developer, which is PT Subur Progress adalah seorang Nasrani, jadi mungkin Mosque is not a priority for a residence. Yang malah justru dikejar dibangun duluan adalah Dreamland (fasilitas swimming pool, playground, dan jogging park bagi warga), Indomaret sebagai sarana belanja retail, dan yang saat ini sedang digarap di depan Dreamland, berdasarkan informasi dari Marketing Officer nya (ga tahu bisa dipercaya atau ga beritanya) akan dibangun Klinik dan Ruko. What??? Quite hedonist, in my opinion, tapi ya mau bagaimana lagi, pendapat warga jarang yang didengar. Di kompleks Bukit Dago, masjid mereka bahkan merupakan bantuan langsung dari Red Crescent International Saudi Arabia (dari prasati yang terpampang di dinding masjid). Ane benar2 tidak tahu bagaimana prosedur mengajukan permohonan bantuan kepada lembaga agama atau sosial baik lokal ataupun internasional sehingga kami segera memiliki masjid di kompleks kami. Ane sengaja menulis posting ini dengan harapan ada pembaca yang bisa memberi tahu bagaimana prosedur memohon donasi organisasi internasional baik organisasi agama maupun sosial untuk pembangunan masjid di kompleks kami atau paling tidak memohon donasi untuk membebaskan lahan di kompleks atau di cluster kami sehingga kami bisa memulai upaya swadaya membangun masjid bagi kaum muslim di kompleks kami. Saya juga berharap ada pembaca dari organisasi agama atau sosial lokal atau mungkin yang kenal dengan orang2nya bisa membantu mencarikan solusi permohonan donasi. Saya sempat berpikir mencoba mengajukan permohonan ke Daarul Quran nya Ustadz Yusuf Mansyur, tapi sekali lagi I simply have no idea how to start. Ane juga khawatir apa iya pihak Daarul Quran mau membantu. Tapi sekali lagi, apapun jalannya, ane akan tetap mengusahakan agar Masjid segera berdiri di kompleks kami, agar adzan segera berkumandang di kompleks kami, agar syiar Islam dan teduhnya lantunan tadarus dapat segera terdengar di sekeliling kami, menggantikan “dangdutan” dan acara radio yang diputar di mushala di sekitar kompleks kami untuk membangunkan orang sahur, yang justru sangat mengganggu. Ane bertekad ingin ikut serta memakmurkan masjid dan pembangunannya, meskipun tidak harus menjadi takmir nya, tapi saya ingin jadi muslim yang turut meramaikan masjid, Insyaallah. Please ease this hope, ya Alllah…