SERPONG CITY PARADISE TIDAK AMAN!

"Dikenal sebagai perumahan The Paradise for Children, Serpong City Paradise telah berhasil membangun suatu lingkungan yang dilengkapi oleh berbagai macam fasilitas untuk menciptakan surga bagi anak-anak dan investasi baik untuk keluarga Anda." Begitulah bunyi deskripsi dalam Facebook FanPage Serpong City Paradise, perumahan yang dibangun oleh developer PT SUBUR PROGRESS. Namun fakta yang terjadi di lapangan akhir-akhir ini justru SANGAT BERBEDA dengan slogan yang selama ini diagung-agungkan oleh PT SUBUR PROGRESS.

 

SCP Insecure

 

Peristiwa terbaru yang terjadi adalah adanya kehilangan (LAGI) di Blok G (Cluster Paradise Hill)! Kali ini yang menjadi korban adalah keluarga Bapak Wahyudin (G.7/11) berupa sepeda juga. Ini merupakan kejadian KEHILANGAN YANG KE-9 kalinya, setelah sebelumnya terjadi 8 kehilangan dalam tempo 1 (satu) minggu! Warga Blok G yang selama ini merasa sudah dikhianati dan tidak pernah didengar keluhannya (baik masalah keamanan, fasilitas sosial dan fasilitas umum, dan masalah asap dari pengusaha arang batok tradisional di sebelah cluster, yang asapnya sudah sangat mengganggu kenyamanan dan kesehatan warga) sudah sepakat untuk membuat Public Complaint ke beberapa media lokal dan nasional. Fasilitas umum dan fasilitas sosial belum ada sama sekali kejelasan, masalah internal manajemen petugas keamanan belum terselesaikan, sekarang warga kehilangan harta bendanya, dan bukan hanya sekali. 9 KALI KEHILANGAN DALAM WAKTU KURANG DARI 1 BULAN!

Kejadian kehilangan TIDAK HANYA TERJADI DI BLOK G saja, namun di semua cluster yang ada di Serpong City Paradise. Namun karena tidak semuanya ter-exposed di media dan karena langkah PT SUBUR PROGRESS yang terus membangun rumah-rumah baru untuk menarik minat pembeli seakan memendam informasi penting yang sudah seharusnya diketahui oleh konsumen atau calon pembeli. Sebenarnya keinginan untuk membuat complaint ke media massa tidak akan dikumandangkan seandainya ada tindak lanjut atau langkah nyata yang diambil pihak developer dalam menangani permasalahan yang ada. Konsep Cluster pun TIDAK DITERAPKAN di semua cluster yang ada di Serpong City Paradise! Pemulung dengan bebas berkeliaran (bahkan mulai dari pagi buta, warga di luar cluster yang bekerja sebagai kuli serabutan bahan bangunan dengan bebas berlalu lalang, anak-anak sekolah yang mempergunakan tanah lapang di cluster tanpa izin RT, tanpa izin developer, tanpa izin warga, semuanya sudah membuat kekesalan dan kemarahan warga (terutama Blok G) semakin memuncak. Secara tidak disadari, tag-line Serpong City Paradise yang selama ini diagungkan dengan kata-kata The Paradise for Children, sekarang telah mengalami pergeseran persepsi menjadi "THE BEST HELL for FAMILY".

 

SCP Insecure 2

 

Kami mengharap agar semua pihak yang setuju bahwa RASA AMAN adalah yang kita inginkan bersama ketika kembali ke rumah dan bertemu keluarga, mohon bantu kami memperjuangkan penyelesaian hal ini, agar didengar oleh para petinggi PT SUBUR PROGRESS yang mungkin saat ini sedang menikmati liburan akhir tahun mereka dengan penuh suka cita, di atas kekesalan, kemarahan, dan musibah yang dialami warga di perumahan yang mereka kembangkan.

Advertisements

Selamat HARI IBU!

ec_119506_1299238612.post

 

SELAMAT HARI IBU bagi semua Ibu dan Calon Ibu di seluruh dunia. Terima kasih telah menjadi "Pelita" dengan terang yang paling benderang di dalam kehidupan kami semua. Tidak ada satu kebaikan pun yang dapat mengganti sekecil apapun doa, perhatian, dan kasih sayang seorang Ibu. HAPPY MOTHER’S DAY.

We Can Never Guess

Unpredictable

 

A man just came to me. He told me that his dad just passed away this afternoon. He just looked so confused how to get home while he had no money and intended to borrow some from me. What I really admired from him is his spirit to stood still while he was walking around to do the patrol in the middle of drizzle at night to finish his job as a security officer. He asked for permission to leave his job earlier to go home. Only God knows what’s really happening. May Allah bless him the power to deal with the mourning…

I simply cannot imagine what would I have done if such a tragedy had happened to me. He told me that he had just lost his foster-father around a month ago, his wife passed away 7 years ago, and now he lives with his two kids. He seemed so tough despite all the sorrow he had. Back to the story above, he only wanted to borrow some money to get home soon. God blessed me today by giving me some money from the seminar I attended, I had shared some to my wife, and a little left for me. Listening to his story, I entered my room and pick some money I kept and I handed him the money. He told me that as soon as he gets back from his home, he’ll pay me back. I just didn’t think about the money anymore, I told him just use it and think about the paying back later. I encouraged him to leave earlier as he could manage to leave his post earlier after compromising it with his partner.

Right after my doing pray tonight, I “reported” to God and share my words that I have sincerely forgotten that I have lent the man the money. I only ask God that Insha’Allah what I did would be counted as my good deed. I didn’t want to memorize all the goodness I have done as doing that time shall simply devastate the reward for the goodness itself just like fire eats the wood. What I learnt tonight was that we can never guess what would happened, however we do have choice to be the one who let God master our mind or allowing the devil to control our heart. Wallahua’lam bishawab…

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H

Muhammad Agung Darlianto beserta keluarga mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 Hijriah. Mohon maaf lahir batin atas segala keliru, salah, dan khilaf dalam pergaulan, baik yg disengaja maupun tidak. Taqabbalallahu minna wa minkum waja-alanallahu minal aidin wal faizin. Insyaallah amal ibadah kita semua selama Bulan Suci Ramadhan diijabah Allah SWT dan kita semua kembali kepada fitrah dan termasuk golongan orang-orang yang merayakan kemenangan.

Paling DEKAT, BESAR, RINGAN, dan BERAT Bagi Manusia

Khutbah Jumat kali ini sangat menyentuh dan “menyentil”. 27 Mei 2011, lokasi di masjid di kawasan Bukit Dago, Gunung Sindur, Tangerang Selatan, dan lupa untuk nama ustadz nya. Beliau membawakan kisah dialog Imam Al Ghazali bersama para muridnya. Imam Al Ghazali menanyakan 4 pertanyaan mengenai hal-hal yang bersifat “paling” dalam kehidupan manusia.

 

Pertanyaan Imam Al Ghazali kepada para muridnya adalah: “Siapa menurut kalian yang paling dekat dengan kalian dalam kehidupan di dunia ini?” Berbagai jawaban dengan berbagai argumentasi diberikan para muridnya. Ada yang menjawab Imam Al Ghazali, sebagai guru mereka, karena ia lah orang tempat mereka menimba ilmu pengetahuan dan agama. Ada pula para murid yang menjawab orang tua karena menurut mereka tidak ada yang lebih baik kepada manusia selain orang tuanya. Ada pula yang menjawab sahabat mereka, kekasih, bahkan harta mereka. Imam Al Ghazali tersenyum seraya berkata, “Jawaban kalian semuanya benar, namun belum tepat!” Para murid pun bertanya siapa gerangan yang paling dekat dalam kehidupan manusia. Sang Imam pun menjawab, “Hal yang paling dekat dengan manusia dalam kehidupan adalah KEMATIAN.” Ia melanjutkan, “Jika engkau merasa dekat dengan orang tuamu, saat ini pun secara nyata kalian sudah berjarak dengan mereka, bahkan dengan sahabat kalian di sini pun, kalian masih dapat bersembunyi dari mereka. Tapi kematian, tidak ada satu pun makhluk di dunia yang bisa menyembunyikan diri dari kematian. Kematian sangat dekat dengan manusia, tidak peduli usia, tempat, status sosial, ataupun kekayaan. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, demikian firman Allah SWT.”

 

Pertanyaan kedua yang diajukan Imam Al Ghazali kepada para muridnya adalah: “Apa menurut kalian hal yang paling besar dan megah di dunia ini?” Beragam jawaban serta alasan diberikan kembali oleh para muridnya. Ada yang menjawab Ka’bah karena merupakan simbol kepatuhan manusia terhadap Tuhannya. Ada pula yang menjawab gunung, ada yang menjawab langit, dan jawaban lainnya yang kesemuanya kembali mengarahkan kepada tanggapan Sang Imam, “Jawaban kalian benar, namun belum tepat.” Beliau meneruskan perkataannya, “Hal yang paling besar dalam kehidupan manusia adalah NAFSU.” “Apapun di dunia ini, seberapa besarnya suatu benda tegak di muka bumi, semegah apapun sesuatu terlihat di depan mata kita, semuanya akan terlihat sangat kecil di mata manusia ketika ia sudah dikuasai nafsu. Bumi luas, hijau, nan indah pun dapat rusak dengan sekejap ketika nafsu manusia berkuasa. Negara besar dengan berbagai bentuk kesejahteraan akan rusak ketika para pemimpinnya dikuasai oleh nafsu.”

 

Pertanyaan berikutnya yang ditanyakan oleh Sang Imam kepada murid-muridnya adalah: “Apa yang menurut kalian paling ringan di dunia ini?” Para murid nya kembali memberikan jawaban yang bervariasi, mulai dari kapas, kertas, sampai daun. Sang Imam lagi-lagi tersenyum dan mengatakan bahwa jawaban mereka benar namun belum tepat. Sang Imam menjelaskan, “Hal yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT.” “Banyak bahkan sangat banyak manusia yang demi segelintir kebahagiaan dunia, demi seuntai kenikmatan fana, atau bahkan sekelumit senangnya memeiliki jabatan rela meninggalkan shalat. Manusia dengan sangat ringannya menjawab “Nanti dulu.” ketika ia diingingatkan untuk mengerjakan shalat, tanpa pernah berpikir logis, seandainya ia meminta sesuatu dengan Allah dengan penuh permohonan yang mengiba-iba, dan Allah ingin sekali saja membalas mereka dengan mengatakan “Nanti dulu.” apa yang akan terjadi. Kita kebanyakan sangat takut tidak memenuhi undangan pimpinan, bos, atau atasan kita dalam suatu jamuan, pekerjaan, atau kegiatan, tapi kita dengan sangat entengnya melalaikan panggilan Allah dalam undangan shalat!” Imam Al Ghazali pun melanjutkan, “Tidakkah kita semua sadar bahwa atasan, pimpinan, bos, atau siapapun yang menyuruh kita, adalah sama dengan kita, sama manusia. Kenapa mereka atau kita harus besar kepala dengan segala status sosial, pendidikan, atau kekayaan kita. Saat shalat, ketika melakukan ruku’, apakah pernah kita sadari bahwa kepala kita yang kita junjung tinggi, yang menjadi lambang kehormatan manusia, sama rendah posisinya dengan qubul dan dubur kita yang merupakan tempat pembuangan kotoran. Apaagi ketika melakukan sujud, apakah kita tidak lebih menyadari lagi bahwa kepala kita sama rata posisi nya dengan kaki kita, bahkan lebih rendah posisinya daripada qubul dan dubur kita. Jadi sesungguhnya, apa masih pantas kita menyombongkan diri dengan mendahulukan panggilan atasan kita daripada panggilan Allah?”

 

Pertanyaan terakhir yang diberikan Sang Imam kepada para muridnya adalah: “Apa yang menurut kalian paling berat di dunia ini?” Pertanyaan menarik ini pun kembali mengundang jawaban dan alasan yang berbeda-beda dari para muridnya. Sebagian besar menjawab besi dan baja, sebagian lagi menjawab pergi ke masjid, bahkan tidak sedikit yang memberikan jawaban lain yang mungkin sedikit tidak masuk akal. Sang Imam dengan segala kerendahan hatinya tidak menyalahkan jawaban para muridnya, namun beliau menambahkan, “Hal yang paling berat di dunia ini adalah MENJAGA SILATURAHMI.” “Kebanyakan dari kita selalu mengatasnamakan kesibukan sebagai alasan ketidaksempatan kita menyambung tali silaturahmi, padahal sesungguhnya di sela-sela kesibukan sangat tidak mungkin manusia tidak memiliki waktu barang sedikitpun untuk bersilaturahmi. Fenomena yang sangat umum ketika manusia sudah mulai disibukkan dengan urusan duniawi bahkan bersalaman dengan tetangga atau sekedar bertegur sapa dan bersenda gurau untuk mengakrabkan suasana pun terasa tidak pernah bisa. Alangkah ruginya kita sebagai manusia yang ketika mati pun akan merepotkan manusia lainnya mulai bersilaturahmi, menyempatkan diri bersalaman, tersenyum dengan tetangga, bertutur kata walaupun sebentar, agar tali silaturahmi selalu terpelihara.”

 

Sang Imam pun menyimpulkan jawaban keempat pertanyaan yang ia berikan tadi, “Jika engkau ingin mendapati hidupmu sebagai manusia yang penuh berkah dan selalu diberkahi Allah, maka mulailah untuk selalu mengingat bahwa kematian sangatlah dekat dengann kehidupan kita kita agar kita selalu beristiqamaha untuk melakukan amal shaleh, mulailah mengendalikan nafsu kitaagar kita tidak terbawa ke jalan yang menyesatkan dan merusak, mulailah membiasakan berat hati untuk meninggalkan shalat, dan mulailah untuk walaupun sebentar, walaupun sejenak, walaupun hanya tersenyum, selalu menyambung tali silaturahmi!” Smile,