A Personal Visit to MANG HERI KOI FARM – Sawangan

Today (March 16th, 2014) was, is, and will always be the most historical moment in my life, in terms of my comprehensive understanding about KOI-FISH world. My partner, Jeni Wardin and I visited Mang Heri Koi Farm in Situ Pengasinan, Sawangan, Depok. Mang Heri’s crib is at Taman Melati Sawangan (few hundreds meter from Rumah Gemilang Al Azhar on Jalan Pengasinan Raya, Sawangan), Blok BG 23A. The farm is actually behind the residence complex yet we need to leave the complex first, turn right onto Jalan Pengasinan Raya, it’s about 1 km away from Taman Melati Sawangan.

We arrived at around 11.15 and met Mang Heri (Heri Hartono, the owner of the farm) in person, face to face. We had a chat, involved in some discussion, threw some ideas, shared our experience, took our lunch, got a little photo session, and most of all, plunged into a very interactive and interesting talks. The visit ended at around 3 in the afternoon. What I can say about him are: He is not smart but GENIUS, He is not kind but EXTREMELY FRIENDLY, he is not a good teacher but A GREAT PROFESSOR! His willing to share all the knowledge about KOI-FISH, his true humbleness about his very vast experiences, his total dedication to the world of KOI, are just some of the reasons among many other reasons why he is more than decent to be appreciated as Indonesia KOI Guru!

The way he treated his guests was just like the way most of us normally treat our beloved family. The manner of which he gave compliments to his colleagues is simply sincere, there were no sign of pretending. We’re just like having a tremendous KOI-MANAGEMENT lecture from an absolutely great scientist! His principle of “when I eat a fruit, it’s a bless from God as well as it’s my obligation to plant the seeds for future existence of other remarkable fruits” surely inspired us as amateur-starters of KOI-FISH benefit-seekers. My partner and I felt so honored to have such a visit!

Mang Heri, hatur nuhun pisan atas semua obrolan, pembicaraan, dan diskusi kita hari ini. Syukran jazilan. Kami tunggu broadcast undangan Panen KOI di Mang Heri Koi Farm ya. Kami pun menunggu waktu Mang Heri untuk hadir di Bintaro. Tenang, Mang, like I told you, saya siapin Pisang yg paling enak! Salam hormat dari kami, Mang… (PS: foto-foto dan video menyusul ya, Mang) Special thanks to agan Arief Wicaksono Hendraningrat yang telah bersedia membantu memberikan panduan awal ke lokasi MHKF

SELAMAT IDUL FITRI 1433 H

Image

Muhammad Agung Darlianto beserta keluarga mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H. Insyaallah dengan selesainya Ramadhan, akan dimulai lagi kesucian diri kita dalam mencari ridha Allah SWT di sebelas bulan berikutnya dan bertemu kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Mohon Maaf lahir Batin atas segala salah, khilaf, dan keliru selama pergaulan baik karena pemikiran, perkataan,

dan perbuatan. Bagi ada di antara sanak saudara, teman2, relasi dan kolega yang masih tersangkut marah dan kesal akibat kata dan perilaku saya dan keluarga, saya mohon diberikan maaf, seandainya sangkutan itu berupa materil, admin memohon kelapangan hati sanak saudara, teman2, relasi, dan kolega sekalian untuk memberikan waktu agar admin dapat mencukupkan penggantinya di masa yang akan datang. Sekali lagi, Selamat HARI RAYA IDUL FITRI, selamat berlibur dan berbahagia bersama keluarga 🙂

WORDS REPETITIONS in AL QUR’AN

Quoted from We All Are Muslim and Facebook Photo

Apart from the miraculous characteristics of the Qur’an which we have looked into so far, it also contains what we can term “mathematical miracles.” There are many examples of this fascinating Qur’anic aspect. One example of this is the number of repetitions of certain words in the Qur’an. Some related words are surprisingly repeated the same number of times. Below is a list of such words and the number of repetitions in the Qur’an.

  • The statement of “seven heavens” is repeated seven times. “The creation of the heavens (khalq as-samawat)” is also repeated seven times.
  • “Day (yawm)” is repeated 365 times in singular form, while its plural and dual forms “days (ayyam and yawmayn)” together are repeated 30 times. The number of repetitions of the word “month” (shahar) is 12.
  • The number of repetitions of the words “plant” and “tree” is the same: 26
  • The word “payment or reward” is repeated 117 times, while the expression “forgiveness” (mughfirah), which is one of the basic morals of the Qur’an, is repeated exactly twice that amount, 234 times.
  • When we count the word “Say,” we find it appears 332 times. We arrive at the same figure when we count the phrase “they said.”
  • The number of times the words, “world” (dunya) and “hereafter” (akhira) are repeated is also the same: 115
  • The word “satan” (shaitan) is used in the Qur’an 88 times, as is the word “angels” (malaika).
  • The word faith (iman) (without genitive) is repeated 25 times throughout the Qur’an as is also the word infidelity (kufr).
  • The words “paradise” and “hell” are each repeated 77 times.
  • The word “zakah” is repeated in the Qur’an 32 times and the number of repetitions of the word “blessing” (barakah) is also 32.
  • The expression “the righteous” (al-abraar) is used 6 times but “the wicked” (al-fujjaar) is used half as much, i.e., 3 times.
  • The number of times the words “Summer-hot” and “winter-cold” are repeated is the same: 5.
  • The words “wine” (khamr) and “intoxication” (saqara) are repeated in the Qur’an the same number of times: 6
  • The number of appearances of the words “mind” and “light” is the same: 49.
  • The words “tongue” and “sermon” are both repeated 25 times.
  • The words “benefit” and “corrupt” both appear 50 times.
  • “Reward” (ajr) and “action” (fail) are both repeated 107 times.
  • “Love” (al-mahabbah) and “obedience” (al-ta’ah) also appear the same number of times: 83
  • The words “refuge” (maseer) and “for ever” (abadan) appear the same number of times in the Qur’an: 28.
  • The words “disaster” (al-musibah) and “thanks” (al-shukr) appear the same number of times in the Qur’an: 75.
  • “Sun” (shams) and “light” (nur) both appear 33 times in the Qur’an.
  • In counting the word “light” only the simple forms of the word were included.
  • The number of appearances of “right guidance” (al-huda) and “mercy” (al-rahma) is the same: 79
  • The words “trouble” and “peace” are both repeated 13 times in the Qur’an.
  • The words “man” and “woman” are also employed equally: 23 times.
    Will they not ponder the Qur’an? If it had been from other than Allah, they would have found many inconsistencies in it.
    (Qur’an, 4:82)
  • The number of times the words “man” and “woman” are repeated in the Qur’an, 23, is at the same time that of the chromosomes from the egg and sperm in the formation of the human embryo. The total number of human chromosomes is 46; 23 each from the mother and father.
  • “Treachery” (khiyanah) is repeated 16 times, while the number of repetitions of the word “foul” (khabith) is 16.
  • “Human being” is used 65 times: the sum of the number of references to the stages of man’s creation is the same: i.e.
  • Human being 65 [Soil (turab) 17 | Drop of Sperm (nutfah) 12 | Embryo (‘alaq) 6 | A half formed lump of flesh (mudghah) 3 | Bone (‘idham) 15 | Flesh (lahm) 12 | Total 65
  • The word “salawat” appear five times in the Qur’an, and Allah has commanded man to perform the prayer (salat) five times a day.
  • The word “land” appears 13 times in the Qur’an and the word “sea” 32 times, giving a total of 45 references. If we divide that number by that of the number of references to the land we arrive at the figure 28.888888888889%. The number of total references to land and sea, 45, divided by the number of references to the sea in the Qur’an, 32, is 71.111111111111%. Extraordinarily, these figures represent the exact proportions of land and sea on the Earth today.

Wallahu’alam…

Paling DEKAT, BESAR, RINGAN, dan BERAT Bagi Manusia

Khutbah Jumat kali ini sangat menyentuh dan “menyentil”. 27 Mei 2011, lokasi di masjid di kawasan Bukit Dago, Gunung Sindur, Tangerang Selatan, dan lupa untuk nama ustadz nya. Beliau membawakan kisah dialog Imam Al Ghazali bersama para muridnya. Imam Al Ghazali menanyakan 4 pertanyaan mengenai hal-hal yang bersifat “paling” dalam kehidupan manusia.

 

Pertanyaan Imam Al Ghazali kepada para muridnya adalah: “Siapa menurut kalian yang paling dekat dengan kalian dalam kehidupan di dunia ini?” Berbagai jawaban dengan berbagai argumentasi diberikan para muridnya. Ada yang menjawab Imam Al Ghazali, sebagai guru mereka, karena ia lah orang tempat mereka menimba ilmu pengetahuan dan agama. Ada pula para murid yang menjawab orang tua karena menurut mereka tidak ada yang lebih baik kepada manusia selain orang tuanya. Ada pula yang menjawab sahabat mereka, kekasih, bahkan harta mereka. Imam Al Ghazali tersenyum seraya berkata, “Jawaban kalian semuanya benar, namun belum tepat!” Para murid pun bertanya siapa gerangan yang paling dekat dalam kehidupan manusia. Sang Imam pun menjawab, “Hal yang paling dekat dengan manusia dalam kehidupan adalah KEMATIAN.” Ia melanjutkan, “Jika engkau merasa dekat dengan orang tuamu, saat ini pun secara nyata kalian sudah berjarak dengan mereka, bahkan dengan sahabat kalian di sini pun, kalian masih dapat bersembunyi dari mereka. Tapi kematian, tidak ada satu pun makhluk di dunia yang bisa menyembunyikan diri dari kematian. Kematian sangat dekat dengan manusia, tidak peduli usia, tempat, status sosial, ataupun kekayaan. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, demikian firman Allah SWT.”

 

Pertanyaan kedua yang diajukan Imam Al Ghazali kepada para muridnya adalah: “Apa menurut kalian hal yang paling besar dan megah di dunia ini?” Beragam jawaban serta alasan diberikan kembali oleh para muridnya. Ada yang menjawab Ka’bah karena merupakan simbol kepatuhan manusia terhadap Tuhannya. Ada pula yang menjawab gunung, ada yang menjawab langit, dan jawaban lainnya yang kesemuanya kembali mengarahkan kepada tanggapan Sang Imam, “Jawaban kalian benar, namun belum tepat.” Beliau meneruskan perkataannya, “Hal yang paling besar dalam kehidupan manusia adalah NAFSU.” “Apapun di dunia ini, seberapa besarnya suatu benda tegak di muka bumi, semegah apapun sesuatu terlihat di depan mata kita, semuanya akan terlihat sangat kecil di mata manusia ketika ia sudah dikuasai nafsu. Bumi luas, hijau, nan indah pun dapat rusak dengan sekejap ketika nafsu manusia berkuasa. Negara besar dengan berbagai bentuk kesejahteraan akan rusak ketika para pemimpinnya dikuasai oleh nafsu.”

 

Pertanyaan berikutnya yang ditanyakan oleh Sang Imam kepada murid-muridnya adalah: “Apa yang menurut kalian paling ringan di dunia ini?” Para murid nya kembali memberikan jawaban yang bervariasi, mulai dari kapas, kertas, sampai daun. Sang Imam lagi-lagi tersenyum dan mengatakan bahwa jawaban mereka benar namun belum tepat. Sang Imam menjelaskan, “Hal yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT.” “Banyak bahkan sangat banyak manusia yang demi segelintir kebahagiaan dunia, demi seuntai kenikmatan fana, atau bahkan sekelumit senangnya memeiliki jabatan rela meninggalkan shalat. Manusia dengan sangat ringannya menjawab “Nanti dulu.” ketika ia diingingatkan untuk mengerjakan shalat, tanpa pernah berpikir logis, seandainya ia meminta sesuatu dengan Allah dengan penuh permohonan yang mengiba-iba, dan Allah ingin sekali saja membalas mereka dengan mengatakan “Nanti dulu.” apa yang akan terjadi. Kita kebanyakan sangat takut tidak memenuhi undangan pimpinan, bos, atau atasan kita dalam suatu jamuan, pekerjaan, atau kegiatan, tapi kita dengan sangat entengnya melalaikan panggilan Allah dalam undangan shalat!” Imam Al Ghazali pun melanjutkan, “Tidakkah kita semua sadar bahwa atasan, pimpinan, bos, atau siapapun yang menyuruh kita, adalah sama dengan kita, sama manusia. Kenapa mereka atau kita harus besar kepala dengan segala status sosial, pendidikan, atau kekayaan kita. Saat shalat, ketika melakukan ruku’, apakah pernah kita sadari bahwa kepala kita yang kita junjung tinggi, yang menjadi lambang kehormatan manusia, sama rendah posisinya dengan qubul dan dubur kita yang merupakan tempat pembuangan kotoran. Apaagi ketika melakukan sujud, apakah kita tidak lebih menyadari lagi bahwa kepala kita sama rata posisi nya dengan kaki kita, bahkan lebih rendah posisinya daripada qubul dan dubur kita. Jadi sesungguhnya, apa masih pantas kita menyombongkan diri dengan mendahulukan panggilan atasan kita daripada panggilan Allah?”

 

Pertanyaan terakhir yang diberikan Sang Imam kepada para muridnya adalah: “Apa yang menurut kalian paling berat di dunia ini?” Pertanyaan menarik ini pun kembali mengundang jawaban dan alasan yang berbeda-beda dari para muridnya. Sebagian besar menjawab besi dan baja, sebagian lagi menjawab pergi ke masjid, bahkan tidak sedikit yang memberikan jawaban lain yang mungkin sedikit tidak masuk akal. Sang Imam dengan segala kerendahan hatinya tidak menyalahkan jawaban para muridnya, namun beliau menambahkan, “Hal yang paling berat di dunia ini adalah MENJAGA SILATURAHMI.” “Kebanyakan dari kita selalu mengatasnamakan kesibukan sebagai alasan ketidaksempatan kita menyambung tali silaturahmi, padahal sesungguhnya di sela-sela kesibukan sangat tidak mungkin manusia tidak memiliki waktu barang sedikitpun untuk bersilaturahmi. Fenomena yang sangat umum ketika manusia sudah mulai disibukkan dengan urusan duniawi bahkan bersalaman dengan tetangga atau sekedar bertegur sapa dan bersenda gurau untuk mengakrabkan suasana pun terasa tidak pernah bisa. Alangkah ruginya kita sebagai manusia yang ketika mati pun akan merepotkan manusia lainnya mulai bersilaturahmi, menyempatkan diri bersalaman, tersenyum dengan tetangga, bertutur kata walaupun sebentar, agar tali silaturahmi selalu terpelihara.”

 

Sang Imam pun menyimpulkan jawaban keempat pertanyaan yang ia berikan tadi, “Jika engkau ingin mendapati hidupmu sebagai manusia yang penuh berkah dan selalu diberkahi Allah, maka mulailah untuk selalu mengingat bahwa kematian sangatlah dekat dengann kehidupan kita kita agar kita selalu beristiqamaha untuk melakukan amal shaleh, mulailah mengendalikan nafsu kitaagar kita tidak terbawa ke jalan yang menyesatkan dan merusak, mulailah membiasakan berat hati untuk meninggalkan shalat, dan mulailah untuk walaupun sebentar, walaupun sejenak, walaupun hanya tersenyum, selalu menyambung tali silaturahmi!” Smile,

Surat Terbuka Untuk Telkom Speedy

Saya pelanggan Telkom Speedy dengan nomor pelanggan 122418200351. Uneg uneg yang paling ingin saya sampaikan adalah koneksi Telkom Speedy yang sangat tidak bisa diandalkan, terutama di tempat saya. Saya berlangganan Paket Socialia, dengan menggunakan modem wireless TP-Link.

Sejak pertama kali saya berlangganan, boleh dikatakan tidak ada yang satu bulan penuh koneksi Speedy yang benar2 “aman”, selalu saja ada gangguan, sering sekali DC, dan sering tiba2 mati hidup lampu indikator di modemnya. Saya sudah beberapa kali komplain, komplain pertama (saya lupa tanggalnya)ditanggapi dengan datangnya petugas dari telkom, hal ini dibarengi juga dengan tidak berfungsi dengan baiknya jaringan telepon saya, diperbaiki oleh mereka (saya ga tahu apa yang mereka kerjakan) tapi beberapa hari kemudian terjadi lagi. Telepon saya tidak dapat digunakan dan koneksi internetnya sangat sering tiba tiba mati. Saya komplain lagi, kemudian datang petugasnya, yang menerima kebetulan istri saya, dan untuk 2 kali berikutnya, jawaban dari petugas Telkom nya “ini kabel ground nya memang sudah harus diganti!”.

Saya tidak tahu apa istilah kabel ground dan segala macamnya yang disebut oleh petugas Telkom tersebut, dan entah berapa kali saya sudah komplain baik langsung maupun melalui media sosial internet namun sampai saat ini sama sekalai tidak ada perubahan peningkatan jaringan, koneksi, atau pemberitahuan lain. Sekarang pun jaringan telpon saya mati tidak bisa digunakan. Berbicara masalah pembayaran, beberapa bulan terakhir memang sengaja saya telat membayar, bukan tidak mau, tapi sudah eneg, bayar terus terus, kalau telat ditagih dan ditelpon, tapi layanan dan koneksi yang saya dapat, JAUH SEKALI DARI KATA2 MARKETING GIMMICK yang dibuat Telkom Speedy. Sampai detik ini, saya benar2 merasa dikecewakan dan dirusak hidup saya, karena sudah lebih dari 3x dimana saya benar2 memerlukan koneksi untuk event2 yang sangat penting dalam karir saya, tapi semuanya rusak dan hancur gara2 koneksi Telkom Speedy. Bahkan beberapa minggu yang lalu, saya hampir tidak bisa mengirimkan tugas akhir pascasarjana saya ke dosen saya hanya gara2 koneksi Speedy yang sangat2 parah (waktu itu malam, dan sangat tidak mungkin saya ke warnet), dan yang paling parah, beberapa waktu yang lalu pula, saya hampir saja kehilangan calon klien yang memerlukan jasa saya, kaena saya sama sekali tidak bisa mengirimkan file penting yang harus dilihat. Kerugian2 seperti ini tentu tidak akan pernah diakomodir penyelesaiannya oleh Telkom, tapi apakah hanya gara2 saya berlangganan dengan biaya yang “kere” terus fasilitas yang ditawarkan seperti dalam brosur dan iklan juga harus di”kere”kan?

Sebelum saya pindah ke rumah yang sekarang, selama hampir 2 tahun lebih saya menggunakan jasa koneksi internet dari FirstMedia ketika saya tinggal di Bintaro, jujur, TIDAK ADA SATUPUN PERMASALAHAN SEPERTI INI! Sekarang, hanya karena belum ada FirstMedia masuk ke kompleks kami sehingga saya masih terus bertahan dengan keadaan kesal dan makan hati tertahan terus oleh Telkom Speedy. Mohon diperhatikan keluhan2 seperti ini, Telkom Speedy, jangan hanya testimonial2 bagus2 saja yang Anda re-tweet di Twitter.  Semoga komplain dalam ranah publik ini lebih dapat didengar dan ditanggapi oleh Telkom Speedy!