SELAMAT IDUL FITRI 1433 H

Image

Muhammad Agung Darlianto beserta keluarga mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H. Insyaallah dengan selesainya Ramadhan, akan dimulai lagi kesucian diri kita dalam mencari ridha Allah SWT di sebelas bulan berikutnya dan bertemu kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Mohon Maaf lahir Batin atas segala salah, khilaf, dan keliru selama pergaulan baik karena pemikiran, perkataan,

dan perbuatan. Bagi ada di antara sanak saudara, teman2, relasi dan kolega yang masih tersangkut marah dan kesal akibat kata dan perilaku saya dan keluarga, saya mohon diberikan maaf, seandainya sangkutan itu berupa materil, admin memohon kelapangan hati sanak saudara, teman2, relasi, dan kolega sekalian untuk memberikan waktu agar admin dapat mencukupkan penggantinya di masa yang akan datang. Sekali lagi, Selamat HARI RAYA IDUL FITRI, selamat berlibur dan berbahagia bersama keluarga 🙂
Advertisements

WORDS REPETITIONS in AL QUR’AN

Quoted from We All Are Muslim and Facebook Photo

Apart from the miraculous characteristics of the Qur’an which we have looked into so far, it also contains what we can term “mathematical miracles.” There are many examples of this fascinating Qur’anic aspect. One example of this is the number of repetitions of certain words in the Qur’an. Some related words are surprisingly repeated the same number of times. Below is a list of such words and the number of repetitions in the Qur’an.

  • The statement of “seven heavens” is repeated seven times. “The creation of the heavens (khalq as-samawat)” is also repeated seven times.
  • “Day (yawm)” is repeated 365 times in singular form, while its plural and dual forms “days (ayyam and yawmayn)” together are repeated 30 times. The number of repetitions of the word “month” (shahar) is 12.
  • The number of repetitions of the words “plant” and “tree” is the same: 26
  • The word “payment or reward” is repeated 117 times, while the expression “forgiveness” (mughfirah), which is one of the basic morals of the Qur’an, is repeated exactly twice that amount, 234 times.
  • When we count the word “Say,” we find it appears 332 times. We arrive at the same figure when we count the phrase “they said.”
  • The number of times the words, “world” (dunya) and “hereafter” (akhira) are repeated is also the same: 115
  • The word “satan” (shaitan) is used in the Qur’an 88 times, as is the word “angels” (malaika).
  • The word faith (iman) (without genitive) is repeated 25 times throughout the Qur’an as is also the word infidelity (kufr).
  • The words “paradise” and “hell” are each repeated 77 times.
  • The word “zakah” is repeated in the Qur’an 32 times and the number of repetitions of the word “blessing” (barakah) is also 32.
  • The expression “the righteous” (al-abraar) is used 6 times but “the wicked” (al-fujjaar) is used half as much, i.e., 3 times.
  • The number of times the words “Summer-hot” and “winter-cold” are repeated is the same: 5.
  • The words “wine” (khamr) and “intoxication” (saqara) are repeated in the Qur’an the same number of times: 6
  • The number of appearances of the words “mind” and “light” is the same: 49.
  • The words “tongue” and “sermon” are both repeated 25 times.
  • The words “benefit” and “corrupt” both appear 50 times.
  • “Reward” (ajr) and “action” (fail) are both repeated 107 times.
  • “Love” (al-mahabbah) and “obedience” (al-ta’ah) also appear the same number of times: 83
  • The words “refuge” (maseer) and “for ever” (abadan) appear the same number of times in the Qur’an: 28.
  • The words “disaster” (al-musibah) and “thanks” (al-shukr) appear the same number of times in the Qur’an: 75.
  • “Sun” (shams) and “light” (nur) both appear 33 times in the Qur’an.
  • In counting the word “light” only the simple forms of the word were included.
  • The number of appearances of “right guidance” (al-huda) and “mercy” (al-rahma) is the same: 79
  • The words “trouble” and “peace” are both repeated 13 times in the Qur’an.
  • The words “man” and “woman” are also employed equally: 23 times.
    Will they not ponder the Qur’an? If it had been from other than Allah, they would have found many inconsistencies in it.
    (Qur’an, 4:82)
  • The number of times the words “man” and “woman” are repeated in the Qur’an, 23, is at the same time that of the chromosomes from the egg and sperm in the formation of the human embryo. The total number of human chromosomes is 46; 23 each from the mother and father.
  • “Treachery” (khiyanah) is repeated 16 times, while the number of repetitions of the word “foul” (khabith) is 16.
  • “Human being” is used 65 times: the sum of the number of references to the stages of man’s creation is the same: i.e.
  • Human being 65 [Soil (turab) 17 | Drop of Sperm (nutfah) 12 | Embryo (‘alaq) 6 | A half formed lump of flesh (mudghah) 3 | Bone (‘idham) 15 | Flesh (lahm) 12 | Total 65
  • The word “salawat” appear five times in the Qur’an, and Allah has commanded man to perform the prayer (salat) five times a day.
  • The word “land” appears 13 times in the Qur’an and the word “sea” 32 times, giving a total of 45 references. If we divide that number by that of the number of references to the land we arrive at the figure 28.888888888889%. The number of total references to land and sea, 45, divided by the number of references to the sea in the Qur’an, 32, is 71.111111111111%. Extraordinarily, these figures represent the exact proportions of land and sea on the Earth today.

Wallahu’alam…

Paling DEKAT, BESAR, RINGAN, dan BERAT Bagi Manusia

Khutbah Jumat kali ini sangat menyentuh dan “menyentil”. 27 Mei 2011, lokasi di masjid di kawasan Bukit Dago, Gunung Sindur, Tangerang Selatan, dan lupa untuk nama ustadz nya. Beliau membawakan kisah dialog Imam Al Ghazali bersama para muridnya. Imam Al Ghazali menanyakan 4 pertanyaan mengenai hal-hal yang bersifat “paling” dalam kehidupan manusia.

 

Pertanyaan Imam Al Ghazali kepada para muridnya adalah: “Siapa menurut kalian yang paling dekat dengan kalian dalam kehidupan di dunia ini?” Berbagai jawaban dengan berbagai argumentasi diberikan para muridnya. Ada yang menjawab Imam Al Ghazali, sebagai guru mereka, karena ia lah orang tempat mereka menimba ilmu pengetahuan dan agama. Ada pula para murid yang menjawab orang tua karena menurut mereka tidak ada yang lebih baik kepada manusia selain orang tuanya. Ada pula yang menjawab sahabat mereka, kekasih, bahkan harta mereka. Imam Al Ghazali tersenyum seraya berkata, “Jawaban kalian semuanya benar, namun belum tepat!” Para murid pun bertanya siapa gerangan yang paling dekat dalam kehidupan manusia. Sang Imam pun menjawab, “Hal yang paling dekat dengan manusia dalam kehidupan adalah KEMATIAN.” Ia melanjutkan, “Jika engkau merasa dekat dengan orang tuamu, saat ini pun secara nyata kalian sudah berjarak dengan mereka, bahkan dengan sahabat kalian di sini pun, kalian masih dapat bersembunyi dari mereka. Tapi kematian, tidak ada satu pun makhluk di dunia yang bisa menyembunyikan diri dari kematian. Kematian sangat dekat dengan manusia, tidak peduli usia, tempat, status sosial, ataupun kekayaan. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, demikian firman Allah SWT.”

 

Pertanyaan kedua yang diajukan Imam Al Ghazali kepada para muridnya adalah: “Apa menurut kalian hal yang paling besar dan megah di dunia ini?” Beragam jawaban serta alasan diberikan kembali oleh para muridnya. Ada yang menjawab Ka’bah karena merupakan simbol kepatuhan manusia terhadap Tuhannya. Ada pula yang menjawab gunung, ada yang menjawab langit, dan jawaban lainnya yang kesemuanya kembali mengarahkan kepada tanggapan Sang Imam, “Jawaban kalian benar, namun belum tepat.” Beliau meneruskan perkataannya, “Hal yang paling besar dalam kehidupan manusia adalah NAFSU.” “Apapun di dunia ini, seberapa besarnya suatu benda tegak di muka bumi, semegah apapun sesuatu terlihat di depan mata kita, semuanya akan terlihat sangat kecil di mata manusia ketika ia sudah dikuasai nafsu. Bumi luas, hijau, nan indah pun dapat rusak dengan sekejap ketika nafsu manusia berkuasa. Negara besar dengan berbagai bentuk kesejahteraan akan rusak ketika para pemimpinnya dikuasai oleh nafsu.”

 

Pertanyaan berikutnya yang ditanyakan oleh Sang Imam kepada murid-muridnya adalah: “Apa yang menurut kalian paling ringan di dunia ini?” Para murid nya kembali memberikan jawaban yang bervariasi, mulai dari kapas, kertas, sampai daun. Sang Imam lagi-lagi tersenyum dan mengatakan bahwa jawaban mereka benar namun belum tepat. Sang Imam menjelaskan, “Hal yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT.” “Banyak bahkan sangat banyak manusia yang demi segelintir kebahagiaan dunia, demi seuntai kenikmatan fana, atau bahkan sekelumit senangnya memeiliki jabatan rela meninggalkan shalat. Manusia dengan sangat ringannya menjawab “Nanti dulu.” ketika ia diingingatkan untuk mengerjakan shalat, tanpa pernah berpikir logis, seandainya ia meminta sesuatu dengan Allah dengan penuh permohonan yang mengiba-iba, dan Allah ingin sekali saja membalas mereka dengan mengatakan “Nanti dulu.” apa yang akan terjadi. Kita kebanyakan sangat takut tidak memenuhi undangan pimpinan, bos, atau atasan kita dalam suatu jamuan, pekerjaan, atau kegiatan, tapi kita dengan sangat entengnya melalaikan panggilan Allah dalam undangan shalat!” Imam Al Ghazali pun melanjutkan, “Tidakkah kita semua sadar bahwa atasan, pimpinan, bos, atau siapapun yang menyuruh kita, adalah sama dengan kita, sama manusia. Kenapa mereka atau kita harus besar kepala dengan segala status sosial, pendidikan, atau kekayaan kita. Saat shalat, ketika melakukan ruku’, apakah pernah kita sadari bahwa kepala kita yang kita junjung tinggi, yang menjadi lambang kehormatan manusia, sama rendah posisinya dengan qubul dan dubur kita yang merupakan tempat pembuangan kotoran. Apaagi ketika melakukan sujud, apakah kita tidak lebih menyadari lagi bahwa kepala kita sama rata posisi nya dengan kaki kita, bahkan lebih rendah posisinya daripada qubul dan dubur kita. Jadi sesungguhnya, apa masih pantas kita menyombongkan diri dengan mendahulukan panggilan atasan kita daripada panggilan Allah?”

 

Pertanyaan terakhir yang diberikan Sang Imam kepada para muridnya adalah: “Apa yang menurut kalian paling berat di dunia ini?” Pertanyaan menarik ini pun kembali mengundang jawaban dan alasan yang berbeda-beda dari para muridnya. Sebagian besar menjawab besi dan baja, sebagian lagi menjawab pergi ke masjid, bahkan tidak sedikit yang memberikan jawaban lain yang mungkin sedikit tidak masuk akal. Sang Imam dengan segala kerendahan hatinya tidak menyalahkan jawaban para muridnya, namun beliau menambahkan, “Hal yang paling berat di dunia ini adalah MENJAGA SILATURAHMI.” “Kebanyakan dari kita selalu mengatasnamakan kesibukan sebagai alasan ketidaksempatan kita menyambung tali silaturahmi, padahal sesungguhnya di sela-sela kesibukan sangat tidak mungkin manusia tidak memiliki waktu barang sedikitpun untuk bersilaturahmi. Fenomena yang sangat umum ketika manusia sudah mulai disibukkan dengan urusan duniawi bahkan bersalaman dengan tetangga atau sekedar bertegur sapa dan bersenda gurau untuk mengakrabkan suasana pun terasa tidak pernah bisa. Alangkah ruginya kita sebagai manusia yang ketika mati pun akan merepotkan manusia lainnya mulai bersilaturahmi, menyempatkan diri bersalaman, tersenyum dengan tetangga, bertutur kata walaupun sebentar, agar tali silaturahmi selalu terpelihara.”

 

Sang Imam pun menyimpulkan jawaban keempat pertanyaan yang ia berikan tadi, “Jika engkau ingin mendapati hidupmu sebagai manusia yang penuh berkah dan selalu diberkahi Allah, maka mulailah untuk selalu mengingat bahwa kematian sangatlah dekat dengann kehidupan kita kita agar kita selalu beristiqamaha untuk melakukan amal shaleh, mulailah mengendalikan nafsu kitaagar kita tidak terbawa ke jalan yang menyesatkan dan merusak, mulailah membiasakan berat hati untuk meninggalkan shalat, dan mulailah untuk walaupun sebentar, walaupun sejenak, walaupun hanya tersenyum, selalu menyambung tali silaturahmi!” Smile,

Surat Terbuka Untuk Telkom Speedy

Saya pelanggan Telkom Speedy dengan nomor pelanggan 122418200351. Uneg uneg yang paling ingin saya sampaikan adalah koneksi Telkom Speedy yang sangat tidak bisa diandalkan, terutama di tempat saya. Saya berlangganan Paket Socialia, dengan menggunakan modem wireless TP-Link.

Sejak pertama kali saya berlangganan, boleh dikatakan tidak ada yang satu bulan penuh koneksi Speedy yang benar2 “aman”, selalu saja ada gangguan, sering sekali DC, dan sering tiba2 mati hidup lampu indikator di modemnya. Saya sudah beberapa kali komplain, komplain pertama (saya lupa tanggalnya)ditanggapi dengan datangnya petugas dari telkom, hal ini dibarengi juga dengan tidak berfungsi dengan baiknya jaringan telepon saya, diperbaiki oleh mereka (saya ga tahu apa yang mereka kerjakan) tapi beberapa hari kemudian terjadi lagi. Telepon saya tidak dapat digunakan dan koneksi internetnya sangat sering tiba tiba mati. Saya komplain lagi, kemudian datang petugasnya, yang menerima kebetulan istri saya, dan untuk 2 kali berikutnya, jawaban dari petugas Telkom nya “ini kabel ground nya memang sudah harus diganti!”.

Saya tidak tahu apa istilah kabel ground dan segala macamnya yang disebut oleh petugas Telkom tersebut, dan entah berapa kali saya sudah komplain baik langsung maupun melalui media sosial internet namun sampai saat ini sama sekalai tidak ada perubahan peningkatan jaringan, koneksi, atau pemberitahuan lain. Sekarang pun jaringan telpon saya mati tidak bisa digunakan. Berbicara masalah pembayaran, beberapa bulan terakhir memang sengaja saya telat membayar, bukan tidak mau, tapi sudah eneg, bayar terus terus, kalau telat ditagih dan ditelpon, tapi layanan dan koneksi yang saya dapat, JAUH SEKALI DARI KATA2 MARKETING GIMMICK yang dibuat Telkom Speedy. Sampai detik ini, saya benar2 merasa dikecewakan dan dirusak hidup saya, karena sudah lebih dari 3x dimana saya benar2 memerlukan koneksi untuk event2 yang sangat penting dalam karir saya, tapi semuanya rusak dan hancur gara2 koneksi Telkom Speedy. Bahkan beberapa minggu yang lalu, saya hampir tidak bisa mengirimkan tugas akhir pascasarjana saya ke dosen saya hanya gara2 koneksi Speedy yang sangat2 parah (waktu itu malam, dan sangat tidak mungkin saya ke warnet), dan yang paling parah, beberapa waktu yang lalu pula, saya hampir saja kehilangan calon klien yang memerlukan jasa saya, kaena saya sama sekali tidak bisa mengirimkan file penting yang harus dilihat. Kerugian2 seperti ini tentu tidak akan pernah diakomodir penyelesaiannya oleh Telkom, tapi apakah hanya gara2 saya berlangganan dengan biaya yang “kere” terus fasilitas yang ditawarkan seperti dalam brosur dan iklan juga harus di”kere”kan?

Sebelum saya pindah ke rumah yang sekarang, selama hampir 2 tahun lebih saya menggunakan jasa koneksi internet dari FirstMedia ketika saya tinggal di Bintaro, jujur, TIDAK ADA SATUPUN PERMASALAHAN SEPERTI INI! Sekarang, hanya karena belum ada FirstMedia masuk ke kompleks kami sehingga saya masih terus bertahan dengan keadaan kesal dan makan hati tertahan terus oleh Telkom Speedy. Mohon diperhatikan keluhan2 seperti ini, Telkom Speedy, jangan hanya testimonial2 bagus2 saja yang Anda re-tweet di Twitter.  Semoga komplain dalam ranah publik ini lebih dapat didengar dan ditanggapi oleh Telkom Speedy!

49 Logic-Usage Mistakes in Indonesia

This posting was compiled and re-furbished from a note of my friend Selby Irawan (dengan beberapa perubahan dan perbaikan). Thanks for the inspiration and the tagging, Bro 🙂

01. Category Logic Error:

Kesalahan berlogika akibat salah menerapkan kategori. Contoh: Banyak sarjana beranggapan bahwa Dra adalah gelar sarjana untuk wanita. Padahal, gelar dibuat tidak berdasarkan jenis kelamin, melainkan berdasar jenis ilmu pengetahuan. Misalnya, Sarjana Ekonomi (SE), Sarjana Hukum (SH),dll.

02. Usage Logic Error:

Kesalahan penggunaan sesuatu (gelar sarjana) yang tidak pada tempatnya. Contoh: Banyak undangan pernikahan yang mencantumkan gelar sarjana calon pengantinnya. Padahal gelar sarjana harus digunakan untuk kegiatan yang ada hubungannya dengan kegiatan ilmiah atau profesi. Pernikahan bukanlah kegiatan ilmiah maupun profesi.

03. Academic-Degree-Usage Logic Error:

Kesalahan berlogika di dalam pemakaian gelar sarjana. Contoh: Sesudah lulus S-1, lantas meneruskan ke jenjang S-2. Lantas, gelar S-1 dan S-2 nya dipakai semua. Padahal, gelar S-2 merupakan kelanjutan dari S-1. Seharusnya, S-2 saja yang dipakai. Ibaratnya di militer, kalau dari Letkol ya Kol (Kol-nya saja yang dipakai) dan bukan LetkolKol.

04. Knowledge Logic Error:

Kesalahan berlogika karena hal yang dibicarakan belum diketahuinya. Contoh: Seorang sarjana mengatakan, untuk apa belajar logika, toh semua orang bisa berlogika. Yang benar, logika dan ilmu logika itu berbeda. Logika, semua orang bisa. Tetapi, ilmu logika adalah sebuah ilmu yang harus dipelajari.Tidak semua orang belajar ilmu logika. Tidak semua orang mengerti ilmu logika.

05. Profession-Comprehending Logic Error:

Kesalahan berlogika karena tidak memahami profesi seseorang. Contoh: Si A adalah seorang kritikus. Hampir tiap hari menulis kritik di koran. Lantas ada orang mengatakan bahwa Si A itu bisanya cuma mengritik.Ya, di negara manapun yang namanya kritikus tugasnya ya mengritik. Yang namanya penyiar radio tugasnya ya bicara saja. Yang namanya ustadz kerjanya ya berceramah saja.

06. Ability Logic Error:

Kesalahan berlogika karena tidak berdasarkan kemampuan diri sendiri. Contoh: Pemerintah akan menambah PNS baru sebanyak 300.000 orang. Padahal, untuk membayar gaji PNS (yang sudah dinaikkan), pemerintah utang ke Jepang. Menggaji PNS yang ada saja tidak mampu, kok akan menambah 300.000 PNS baru.

07. Written-Interpretation Logic Error:

Kesalahan berloka hanya berdasarkan pada tulisan. Contoh: Ketika Si A menulis surat pembaca berjudul :”SBY Sang Demokrat Sejati”, maka orang mengira penulis tersebut pendukung SBY. Lain kali, Si A menulis surat pembaca berjudul “Akhirnya SBY Ingkar Janji”, orang menilai Si A anti-SBY,pro-Mega atau berasal dari partai gurem. Padahal Si A adalah penulis independen.

08. Causal Logic Error:

Kesalahan berlogika karena tidak melihat penyebabnya. Contoh: Si A adalah anggota sebuah milis. Tiba-tiba dia menerima e-mail yang isinya mendeskreditkan atau mencaci maki . Si A pun membalas. Anehnya, moderator milis justru mengeluarkan Si A dari keanggautaan milis. Sedangkan Si-B yang merupakan penyebabnya tidak dikenakan sanksi apa-apa.

09. End-Result Logic Error:

Kesalahan berlogika karena hanya mengatakan hasil akhirnya saja. Contoh: Sebuah partai politik meng-klaim bahwa harga BBM turun tiga kali (75%). Padahal, sebelumnya telah dinaikkan tiga kali (naik 333.33%). Jadi, status sebenarnya masih naik 333,33%-75% = 258,33%. Namun yang digembar-gemborkan cuma yang turun tiga kali.

10. Dislike-Generalization Logic Error:

Kesalahan berlogika karena menganggap semua pendapat orang yang tidak disukainya adalah salah. Contoh: Si A tidak suka dengan Si B. Apapun yang ditulis atau dikatakan Si-B adalah merupakan tulisan atau ucapan yang salah.

11. Like-Generalization Logic Error:

Kesalahan berlogika karena seseorang menyukai seseorang sehingga semua pendapatnya dianggap benar. Contoh: Para peserta pengajian atau murid pondok pesantren berpendapat bahwa semua ucapan ustadz,ulama atau guru agamanya adalah benar. Benar 100 persen. Tidak mungkin salah. Padahal, seorang ustadz,ulama atau guru agama adalah manusia biasa yang ucapannya bisa saja salah.

12. Ability-Quality Logic Error:

Kesalahan berlogika di mana mengerjakan yang kecil saja tidak mampu, kok akan mengerjakan yang besar. Contoh: Banyak capres yang punya visi akan mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di Indonesia. Padahal, mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di Jakarta saja tidak mampu. Apalagi se-Indonesia.

13. System-Incomprehending Logic Error:

Kesalahan berlogika akibat tidak memahami arti sebuah sistem. Contoh: Ada yang mengatakan “Walaupun sistemnya baik, kalau manusianya tidak baik, maka hasilnyapun tidak baik”.Ini logika yang salah. Sebab, manusia merupakan bagian (subsystem) dari sebuah sistem. Artinya, sistem yang baik, termasuk juga faktor manusia yang baik. Sistem yang baik akan menghasilkan hasil yang baik dan sistem yang buruk akan menghasilkan hasil yang buruk.

14. Definitive-Fault Logic Error:

Kesalahan berlogika akibat tidak memahami definisinya. Contoh: Ada yang berpendapat bahwa Bantuan Langsung Tunai (BLT) tidak efektif untuk mengurangi angka kemiskinan.Ini logika yang salah. Sebab, BLT bukan program pengentasan kemiskinan, melainkan merupakan Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang sifatnya hanya sementara saja.

15. God-Related-Stuff Logic Error:

Kesalahan berlogika karena beranggapan kalau sudah mengatasnamakan Tuhan, tentu tidak bisa disalahkan. Contoh: Umat Islam sering berjanji dengan mengatakan “Insya Allah”. Kemudian ternyata dia ingkar dan tidak meminta maaf. Seolah-olah ingkar janji dengan mengatasnamakan Tuhan merupakan perbuatan yang tidak salah. Padahal, orang yang ingkar janji mempunyai tiga kewajiban. Pertama, melakukan konfirmasi atau pemberitahuan bahwa dia terpaksa tidak bisa menepati janji. Kedua, harus ada alasan yang kuat. Ketiga, tidak mengulangi kesalahannya lagi.

16. Irrasionality Logic Error:

Kesalahan berlogika karena punya anggapan yang salah. Contoh: Ketika dukun cilik Ponari tidak praktek, maka para pasiennya berbuat tidak rasional. Antara lain, mencelupkan kartu nomor urut ke air di dalam gelas, kemudian meminumnya. Sebagian lagi mengambil air buangan dari kamar mandi Ponari. Air di saluran yang kotor itu diendapkan di gelas atau botol air mineral, kemudian diminumnya. Mereka beranggapan semua air di rumah Ponari bisa menyembuhkan penyakit.

17. Breakdown Logic Error:

Kesalahan berlogika akibat tidak mampu menjabarkan tujuan. Contoh: Semua gubernur/bupati/walikota berkeinginan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di daerahnya masing-masing. Tetapi, tidak tahu bagaimana menjabarkan tujuan itu secara rinci.

18. Null Logic Error:

Kesalahan berlogika karena tidak menyadari kalau yang dilakukan tidak ada hasilnya. Contoh: Ketika Israel menyerang Palestina, maka ada gerakan yang mengajak boikot produk Amerika. Ini merupakan gerakan moral-politik yang positif. Tetapi, hasilnya nihil. Sebab, Amerika tetap tidak akan mengubah keputusan-keputusan politiknya.

19. Objective-Misleading Logic Error:

Kesalahan berlogika karena salah mengartikan tujuan. Contoh: Banyak orang beranggapan bahwa tujuan kuliah adalah mencari gelar sarjana. Padahal, tujuan kuliah sesungguhnya yaitu mencari,menuntut dan memperdalam ilmu pengetahuan.

20. End-Game-Essence Logic Error:

Kesalahan berlogika karena sebuah hasil yang tidak signifikan. Contoh: Sebuah iklan politik di TV mengatakan, pemerintah telah berhasil menurunkan angka kemiskinan. Padahal, dengan APBN lebih dari Rp 1.000 triliun, angka kemiskinan cuma turun kurang dari 1 persen. Sebuah hasil yang tidak signifikan.

21. Comparative Logic Error:

Kesalahan berlogika karena salah menggunakan basis perbandingan. Contoh: Ada yang mengatakan lulusan UI lebih berkualitas daripada lulusan UGM.Misalanya, Si A lulusan UI,matakuliah X mendapat nilai 90, sedangkan Si-B lulusan UGM di mana matakuliah X mendapat nilai 80. Orang menilai Si A lebih pandai daripada Si B. Padahal, materi kuliah Si A cuma 100 halaman, sedangkan materi kuliah Si B 300 halaman. Seharusnya, membandingkan sesuatu harus berdasarkan basis yang sama.

22. Survey-Result Logic Error:

Kesalahan berlogika karena hasil survei dianggap 100 persen benar. Contoh: Hasil survei politik menunjukkan bahwa capres A adalah yang paling populer. Maka para pemilihpun terpengaruh. Diapun akhirnya memilih Si A. Padahal, kriteria capres berkualitas tidak cukup dari faktor popularitas saja, melainkan juga faktor kepemimpinan (leadership), prestasi yang pernah dilakukan, moralitas, dll.

23. Personality-Misunderstanding Logic Error:

Kesalahan berlogika karena belum mengenal pribadi seseorang. Contoh: Dalam kehidupan sering kita temukan orang menilai tanpa mengenal orang yang bersangkutan. Misalnya, Si A menilai Si B itu sombong, pelit, sok pintar, dll. Padahal, kenal saja belum.

24. Other-Factors Logic Error:

Kesalahan berlogika karena tidak memperhatikan faktor yang lain. Contoh: Ketika harga BBM naik, maka tarif transportasi umum juga naik. Ketika harga BBM turun maka pemerintah memerintahkan tarif transportasi umum juga turun. Artinya, pemerintah hanya melihat naik turunnya tarif transportasi umum hanya dari harga BBM saja. Padahal ketika harga BBM naik, harga suku cadang, sembako dan setoran naik. Ketika harga BBM turun, harga suku cadangan, sembako dan setoran tidak turun

25. Appeal Logic Error:

Kesalahan berlogika karena menganggap sebuah imbauan bisa menyelesaikan masalah. Contoh: Pemerintah mengimbau agar masyarakat Indonesia menggunakan produk dalam negeri supaya perusahan-perusahaan dalam negeri tidak merugi atau bangkrut. Padahal persoalannya tidak cukup di situ. Kalau produk dalam negeri berkualitas tinggi dengan harga lebih dibandingkan produk sejenis yang diimpor, otomatis masyarakat akan memilih produk dalam negeri.

26. Popularity-Generalization Logic Error:

Kesalahan berlogika karena beranggapan orang yang populer itu orang yang mampu. Contoh: Beberapa lembaga survei politik mengumumkan hasil survei bahwa capres Si “A” adalah yang paling populer. Lantas, calon pemilih beranggapan bahwa Si “A” pasti mampu mengelola bangsa dan negara. Padahal, ukuran mampu atau tidak, tidak terletak kepada populer atau tidak populernya seseorang, tetapi terletak pada prestasi-prestasi yang pernah dimiliki capres tersebut.

27. Accuracy Logic Error:

Kesalahan berlogika karena tidak teliti membaca sebuah kalimat. Contoh: Si A pernah menulis di koran. Dia mengusulkan agar tujuh kata perlu dituliskan di belakang kata “Ketuhanan yang Mahasa Esa” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kewajiban Melaksanakan Syariat Agama bagi Para Pemeluknya”. Lantas Si B mengatakan bahwa Indonesia bukanlah Negara Islam. Si B tidak teliti membaca kalimat, sebab di dalam tujuh kata yang diusulkan, tidak ada kata Islam. Yang ada adalah kata Agama.

28. Similarity Logic Error:

Kesalahan berlogika karena menganggap semuanya sama. Contoh: Si A memesan teralis untuk lima jendelanya yang ukurannya kelihatannya sama. Tukang las datang dan hanya mengukur satu jendela saja. Setelah selesai, ternyata empat teralis lainnya tidak bisa dipasang karena terlalu besar atau terlalu kecil, terlalu panjang atau terlalu pendek. Ini akibat tukang las menganggap semua jendela ukurannya sama persis.

29. Symbolism Logic Error:

Kesalahan berlogika karena ingin dihargai orang lain karena memakai gelar. Contoh: Banyak orang Indonesia memakai gelar sarjana atau gelar haji dengan harapan ingin dihargai orang lain (sebagai status sosial). Padahal, kalau ingin dihargai orang lain syaratnya yaitu bertingkah laku dan bermoral baik.

30. Analogy Logic Error:

Kesalahan berlogika karena salah menggunakan analogi atau perbandingan. Contoh: Si A berpendapat bahwa semua umat beragama di dunia ini sebenarnya menyembah batu. Buddha menyembah patung Buddha Gautama, Kristen menyembah patung Yesus, Shinto menyembah matahari dan Islam menyembah batu yang ada di dalam Kaabah. Tentu itu merupakan analogi yang salah. Apa yang dilakukan oleh agama Buddha, Kristen dan Shinto adalah sebuah simbolis saja dan dibalik simbol itu ada Yang Maha Kuasa. Sedangkan umat Islam shalat menghadap kiblat/Kaabah bukan menyembah batu, tetapi merupakan simbol persatuan, kesatuan dan satu tujuan yang sama, yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

31. Self-Appreciation Logic Error:

Kesalahan berlogika karena menganggap keberhasilan orang lain sebagai keberhasilan dirinya. Contoh: Parpol A mengklaim bahwa swasembada beras adalah hasil kerja kerasnya, padahal yang benar partai B lah yang melakukannya, sebab menteri pertaniannya berasal dari partai B. Pemerintah mengklaim bahwa cadangan devisa besar karena usahanya, padahal itu hasil kerja keras para TKI, eksportir dan para pelaku bisnis wisata.

32. Deficit-Word-Usage Logic Error:

Kesalahan berlogika karena menggunakan APBN/APBD defisit. Contoh: Pemerintah yang menggunakan APBN/APBD defisit, akan terbebani utang terus-menerus hingga ouluhan/ratusan tahun. Hal ini karena cara berlogika yang salah, yaitu “APBN/APBD disusun sesuai dengan kebutuhan. Padahal logika yang benar yaitu, kebutuhan harus disusun berdasarkan kemampuan APBN/APBD tanpa defisit.

33. Appearance-Based Logic Error:

Kesalahan berlogika karena menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Contoh: Si A menjalin kerja sama bisnis dengan Si-B yang berjilbab dan Si-C yang berpecil. Tidak ada perjanjian tertulis. Si A menganggap Si-B dan Si-C orang baik-baik. Belakangan, Si A baru sadar kalau dia ditipu oleh Si B dan Si C.

34. Imbalanced-Starting-Point Logic Error:

Kesalahan berlogika karena membuat perbandingan dengan kondisi start yang tidak sama. Contoh: Pendukung Presiden A mengklaim bahwa pemberantasan korupsi di era Presiden A jauh lebih baik dibandingkan presiden sebelumnya, yaitu Presiden B. Tentu, ini merupakan perbandingan yang tidak fair karena di era Presiden B, Kompisi Pemberantasan Korupsi baru dibentuk, sedangkan di era Presiden A komisi tersebut sudah bisa menjalankan tugas-tugasnya.

35. Egocentric-Opinion LogicError:

Kesalahan berlogika karena masing-masing mengklaim pendapatnya yang paling benar, padahal itu wewenangnya Tuhan. Contoh: Ulama A berpendapat, jika manusai mempunyai 49 persen dosa dan 51 persen pahala, maka dia bisa langsung masuk sorga dan semua dosa-dosanya akan diampuni. Sedangkan ulama B berpendapat bahwa, jika ada manusia punya 49 persen dosa dan 51 persen pahala, maka dia harus masuk neraka dulu untuk menebus semua dosanya. Sesudah itu baru diterima di sorga. Mana yang benar? Hanya Tuhan yang Maha Tahu.

36. Darwinism Logic Error:

Kesalahan berlogika karena tidak tahu adanya link yang hilang. Contoh: Darwin berpendapat bahwa manusia berasal dari kera. Namun, Darwin tidak mampu membuktikan teorinya berdasarkan teori-teori biologi, melainkan hanya berdasarkan teori evolusi berdasarkan penelitiannya sendiri. Fakta menunjukkan bahwa sampai hari ini anak kera tetap menjadi kera dan anak manusia tetap menjadi manusia. Yang benar, manusia purba memang mirip kera, baik wajah maupun bulu-bulu di tubuhnya.

37. Scoope-Related Logic Error:

Kesalahan berlogika karena. melihat persoalan hanya pada lingkup tertentu saja. Contoh: Seorang anggota DPRRI mengatakan bahwa kalau ada artis jadi anggota DPRRI, itu sama saja bunuh diri. Soalnya, penghasilan artis jauh lebih banyak daripada anggota dewan. Tentu, kesalahan logikanya hanya melihat artis yang sedang banyak order. Bagaimana jika yang ingin jadi anggota dewan adalah artis yang sudah tidak laku atau sepi order? Tentu, penghasilan sebagai anggota dewan jauh lebih tinggi.

38. Believe Logic Error:

Kesalahan berlogika karena berdasarkan kepercayaan saja. Contoh: .Si A percaya bahwa semua yang dikatakan Si B adalah benar. Padahal, apa yang dikatakan Si B belum tentu benar. Swebaliknya Si B menganggap Si A pembohong. Padahal Si A selalu berkata jujur

39. Specification-Misleading Logic Error:

Kesalahan berlogika karena tidak memahami spesifikasi. Contoh: Si A ingin membeli komputer Pentium 4 di Toko X. Si A menganggap harga di Toko X mahal. Dia kemudian ke Toko Y. Ternyata di Toko Y harga Pentium 4 lebih murah. Padahal, ada perbedaan spesifikasi komputer di Toko X dan Toko Y. Di Toko X komputer Pentium 4 memiliki spesifikasi RAM 512 MB dan harddisk 80 GB. Sedangkan di Toko B memiliki spesifikasi RAM 128 MB dan harddisk 10 GB.

40. Technical-Skill-Generalization Logic Error:

Kesalahan berlogika karena merasa memiliki keahlian lain. Contoh: Si A adalah tukang reparasi arloji. Suatu hari datang Si B membawa mesin ketik manual yang rusak. Dia tanya, apakah Si A bisa memperbaikinya. Si A berlogika, kalau memperbaiki arloji yang rumit saja bisa, tentu memperbaiki mesin ketik yang sederhana tentu bisa. Namun, setelah dicoba, kenyataannya Si A tidak bisa.

41. False-Thought Logic Error:

Kesalahan berlogika karena adanya anggapan yang salah. Contoh: Banyak yang beranggapan bahwa sepeda motor beroda tiga hanya boleh dikendarai oleh orang yang cacat, misalnya cacat kaki. padahal, semua orang boleh saja mengendarai motor tersebut.

42. Exaggerating Logic Error:

Kesalahan berlogika karena membanggakan orang lain. Contoh: Si A dalam bicaranya selalu membanggakan orang lain. Padahal, belum tentu orang yang dibanggakan belum tentu berkualitas.

43. Opinion-Usage Logic Error:

Kesalahan berlogika karena berbicara berdasar pendapat orang lain. Contoh: Si A di dalam berdiskusi atau berdebat selalu membawa-bawa ucapan orang lain (ulama, ustadz, ketua RT.RW, dan lain-lain) dan orang-orang lain yang dianggap berwibawa. Seolah-olah pendapat orang lain pasti benar. Padahal, belum tentu pendapat orang lain benar.

44. Diabetic-Definition Logic Error:

Kesalahan berlogika karena mengira penyakit diabetes hanya karena gula. Contoh: Sampai hari ini Si A beranggapan bahwa penyakit diabetes hanya diakibatkan oleh terlalu banyak mengonsumsi gula. Padahal, diabetes juga bisa terjadi karena karena keturunan.

45. Unfinished-Question Logic Error:

Kesalahan berlogika karena mengajukan pertanyaan yang tidak lengkap. Contoh: Rombongan mahasiswa rekreasi ke Pantai Rida, Jawa Barat. Untuk ke Pulau Rida, mereka harus naik perahu. Pimpinan rombongan bertanya, berapa biaya ke Pulau Rida. Tukang perahu menjawab Rp 50.000. Merekapun berangkat. Ketika akan pulang, tukang perahu bilang, kalau kembali ke pantai, biayanya Rp 100.000. Seharusnya, pimpinan rombongan bertanya berapa biaya pergi-pulang.

46. Nature-Unfriendliness Logic Error

Kesalahan berlogika karena tidak mau memprioritaskan kekayaan alam. Contoh: Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Sayang, kekayaan alam berupa tambang diserahkan ke investorasing dengan keuntungan yang jauh besar. Sementara itu sektor pertanian dan maritim tidak pernah menjadi prioritas utama di dalam APBN. Pemerintah lebih suka mengundang investor di bidang industri dan manufaktur.

47. Debt-Comprehending Logic Error:

Kesalahan berlogika karena mengandaikan pelunasan utang tanpa berpijak kepada realitas. Contoh: Ada yang berpendapat, Indonesia akan mampu melunasi semua utang luar maupun dalam negeri pada 2040. Itupun dengan asumsi pemerintahan mendatang tidak membuat utang lagi. Apa bisa? Tentu, tidak ada jaminan bahwa pemerintahan mendatang tidak akan membuat utang lagi kecuali harus ada undang-undangnya. Bahkan kalau perlu UUD 1945 berlu direvisi lagi.

48. Sloping-Target Logic Error:

Kesalahan berlogika karena mudah bergesernya target. Contoh: Pemerintah punya target, pada 2009 Indonesia bisa swasembada kedelai. Ternyata meleset. Lantas targetnya digeser ke 2014. Tentu ini cara berlogika yang salah. Yang benar, pemerintah telah gagal merealisasikan target 2009.

49. Doctor-Personality Logic Error

Kesalahan berlogika karena menganggap seorang dokter tidak mungkin bisa sakit. Contoh: Suatu hari Si A ke seorang dokter langganannya. Ternyata tutup. Di pintu ada pengumuman bahwa dokter tidak buka praktek karena sakit. Si A pun heran. Katanya, dokter kok bisa sakit. Bukankah dokter itu mengerti tentang ilmu kesehatan dan tahu caranya menghindari atau menyembuhkan penyakit? Si A lupa bahwa dokter adalah manusia biasa yang bisa sakit. Bahkan nabipun bisa sakit.

I was astonished while I was re-conpiling this posting as I realized, Damn, these facts are so Indonesian! Well, I don’t know for sure how long we will be able to correct all the mistakes above! Anyway, sekalian berpromosi, if you guys ever need an online consultation service for all your construction, housing, and or property stuff, please kindly visit my company’s official site Mandor Bangunan Online™ at www.mandorbangunanonline.com Feel free to browse and have a look at some of ours online service. Mandor Bangunan Online™ adalah layanan konsultasi konstruksi, bangunan, dan properti online yang mengedepankan prinsip Aman, Cepat, dan Efisien. Mandor Bangunan Online™ diharapkan menjadi layan konsultan bangunan online yang member solusi bagi semua masalah konstruksi Anda 🙂 Silakan kunjungi dan jangan lupa berlangganan update agar terus menerima informasi terbaru dari kami, atau jika berminat silakan mendaftar menjadi Affiliate Marketer kami. 🙂